Inilah Nama-nama Pendekar Kuntaw yang Terkenal di Tanah Haji

0
26
Ilustrasi foto. Screenshoot video latihan silat di Pelabar Desa Batu Ampar Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. [Video : Aji Asmuni Kasidi]

Penulis: Agustam Rachman

Sore itu suara gendang bertalu-talu, suara gendang itu seolah memanggil orang-orang yang mendengarnya untuk mencari sumber suaranya. Apalagi gendang itu ditabuh oleh Nang Cik (Radin Mulia). Salah seorang penabuh gendang terbaik di Marga Haji.

Sore itu akan ada pertunjukan Silat (Kuntaw) dimuka umum (sering disebut : main ditengah). Karena yang berhadap-hadapan adalah Pendekar Kuntaw kelas atas.  Dan itu membuat panitia harus menempatkan ada dua orang wasit  (yang juga Pesilat). Masing-masing Mangkualam Umar dan Abdurrachman Radin Kesuma.

Lapangan kecil itu sesak oleh ratusan penonton. Bahkan banyak anak-anak rela memanjat pohon untuk menyaksikan jalannya pertunjukan. Ya, sore itu seorang Guru Kuntaw yang berasal dari Sukabanjar (Suku Daya) menyelesaikan (tamat) pelajaran Kuntaw bagi murid-muridnya di Desa  Kuripan.

Usman, seorang Guru Kuntaw dari Desa Sukabanjar itu berhadapan dengan Mangkualam Hamid seorang ahli Kuntaw dari Desa Kuripan. Ketika kedua Pesilat terlalu rapat berhadapan, dengan cepat wasit memerintahkan untuk menjaga jarak agar tidak terjadi kontak fisik. Setelah berlangsung lebih kurang 30 menit, keduanya mengakhirinya dengan bersalaman sebagai tanda persahabatan.

Mereka berpedoman pada falsafah silat : “Silat itu ke atas (batinnya) mencari Tuhan. Ke bawah (zahirnya) mencari teman”.

Para penonton yang terdiri dari lelaki, perempuan bertepuk tangan mengagumi permainan kedua Pesilat. Tentu saja sekalipun kedua Pesilat itu berasal dari aliran Kuntaw yang berbeda, tapi permainan Kuntaw sore itu tidak bertujuan untuk saling mencelakai.

Acara ditutup dengan makan bersama. Terlihat seorang Pendekar Kuntaw bernama Jamsak mengambilkan nasi untuk Jalang Saka walaupun tadinya mereka berdua berhadap-hadapan di lapangan Kuntaw. Sebuah bentuk persahabatan yang patut diteladani.

Era tahun 70 sampai 80 an, awal tradisi Kuntaw sangat akrab pada masyarakat Suku Haji Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Tradisi belajar Kuntaw pernah berkembang pesat di Tanah Haji. Sama halnya dengan tradisi belajar gitar tunggal batang hari sembilan dan menari.

Silat bagi masyarakat Suku Haji selain sebagai alat beladiri, juga diposisikan sebagai seni budaya. Dulu, atraksi  silat dan tari silat sering diperagakan pada acara 17 Agustusan. Sekarang ini dengan berkembangnya alat musik modern, tarian silat jarang ditampilkan. Hanya sesekali tarian silat (lebih sering disebut Tari Tigal) tampil di belakang pasangan pengantin yang diarak.

Beberapa tokoh tercatat pernah menekuni tradisi Kuntaw bahkan ada yang pernah diberi julukan Hulubalang Marga Haji. Berikut diantaranya :

Mas Gedung

Tidak diketahui nama aslinya. Tapi orang memanggilnya Mas Gedung. Beliau adalah Pendekar generasi tertua  di Tanah Haji. Beliau lahir di Desa Karang Pendeta. Silatnya beraliran Melayu. Dipercaya memiliki kesaktian tinggi yang didapat dari berkhalwat atau bersemedi (bertapa dalam tanah seperti dikubur).

Salah satu kelebihan beliau jika duduk di bawah pohon duku yang sedang berbuah masak dan lebat. Lalu dahan duku digoyangkan. Namun tidak satupun buah duku yang jatuh itu mengenai tubuhnya.

Secara fisik beliau terlihat lamban. Matanya sebelah tidak bisa melihat. Berjalan dengan kaki agak mengangkang dan tubuhnya agak bungkuk. Tapi jika sudah bermain silat, tubuhnya gesit dan lincah. Sayangnya beliau tidak memiliki anak lelaki. Namun demikian anak perempuannya yang bernama Sedah dan Suri menguasai Kuntaw warisan ayahnya.

Semasa hidupnya beliau mengajar silat di banyak tempat. Saat ini penerusnya adalah cucunya. Yaitu, Maulana dan Mastulin di Desa Karang Pendeta.

 

Jalang Saka (Abu Nawas)

Berasal dari Desa Karang Pendeta. Beliau seorang Pendekar Kuntaw sejak era Belanda. Beliau berguru pada banyak Pendekar Kuntaw. Salah satunya pada Refik, orang Sunda dari Sipatuhu Ranau yang menguasai Silat Cimande.

Di zaman Pemerintahan Pangeran Jamil Pesirah Marga Haji, Jalang Saka pernah diadu dengan Pengawal Pembarap Tanjung Iman. Jalang Saka unggul dalam pertarungan itu. Sehingga beliau mendapat julukan Hulubalang Marga Haji. Aliran silat beliau adalah Kuntaw Melayu.

Tubuhnya tinggi besar. Sikap dan tempramen Jalang Saka dikenal keras dan terkenal pemberani. Semasa hidupnya beliau rutin mengajar Kuntaw. Muridnya banyak. Saat ini penerusnya di Desa Karang Pendeta adalah Jamil.

 

Jamsak

Perawakannya kecil dan berkulit gelap. Beliau berasal dari Tanah Sunda. Menikah dengan perempuan dari Desa Surabaya Haji. Menguasai aliran Silat Cimande. Masa lalunya malang melintang di dunia hitam sebelum menetap di Desa Surabaya.

Beliau terkenal kebal senjata tajam dan benda tumpul. Suatu hari, saat hari kalangan (hari pasar) di Kuwal, pernah ditanduk sapi gila sampai tubuhnya terjepit di dinding rumah. Tapi jangankan luka, lecet di tubuhnya pun tidak. Jamsak juga memiliki keahlian pengobatan patah tulang.

Beliau tidak memiliki anak laki-laki. Beliau bersumpah untuk tidak mewariskan ilmu kebalnya. Sebab menurut beliau, ilmu itu panas dan dapat berakibat buruk bagi pemegangnya.  Sampai kini, tidak ada keturunan atau muridnya yang menjadi penerus keahlian silat Jamsak.

 

Mangkualam (Hamid)

Berasal dari Desa Kuripan. Sejak muda merantau ke daerah Palas Lampung Selatan. Aliran Kuntaw beliau disebut Kuntaw ‘Pergaulan’. Beliau berguru pada Tunip (dari Bengkulu) saat di Palas.

Tahun 1950, beliau pulang ke Desa Kuripan dan mengajar banyak murid. Tidak pernah terdengar beliau memiliki musuh seteru. Bahkan semua Pendekar Kuntaw diantaranya Jalang Saka dan Jamsak bersahabat dan saling mengakui bersaudara dengan beliau.

Mangkualam dikenal sebagai pribadi yang sabar. Beliau juga ahli dalam pengobatan tradisional. Pada masa itu jika ada bayi lahir dan diberi nama Hamid, biasanya itu adalah penghormatan kepada beliau. Sebab orang tua bayi tersebut berobat kepada beliau untuk mendapat keturunan. Saat ini, penerus Kuntaw Pergaulan di desa Kuripan adalah Sofyan Ibrahim Indra.

 

Prabu (Cik Agus)

Berasal dari Desa Lubar. Setelah menikah pulang ke Desa Kuripan. Sebab ibunya yang bernama Mace berasal dari Desa Kuripan. Selain ahli pengobatan patah tulang, beliau menguasai 3 aliran silat dari tanah Sunda. Yaitu Cimande, Cikalong dan Pamonyetan. Beliau belajar pada Sardi, orang Sunda yang menetap di Lubar.

Pribadinya keras dan pemberani. Walaupun masih muda tapi pernah hampir bertarung dengan Jalang Saka, seorang Guru Kuntaw yang bergelar Hulubalang Marga Haji. Peristiwa itu terjadi saat sama-sama menghadiri acara penutupan (tamat) Kuntaw di Petalangan Sengguloh Desa Kuripan.

Beruntung ada seseorang membisiki Jalang Saka, bahwa Prabu adalah adik sepupu Mangkualam Hamid (ibu mereka bersaudara kandung). Sehingga Jalang Saka membatalkan rencana pertarungan itu.

Ketika ditanya mengapa dia berani jika bertarung berhadapan dengan Jalang Saka ? Jawabnya singkat. Soal keahlian silat masing-masing ada kekurangan dan kelebihan. Tapi soal nafsu (nyali) semuanya harus diuji. Sebuah jawaban yang menunjukkan seorang pendekar tak takut mati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here