Mengenal Adat Kawin Lari (Sebembangan) Suku Haji

0
15
Ilustrasi pernikahan [Foto : AJi Asmuni Kasidi]

Penulis: Agustam Rachman

Istilah Kawin Lari atau Sebembangan masih sering dilakukan sampai penghujung tahun 90-an. Pasca itu sudah jarang muda-mudi Suku Haji melakukannya.  Sepintas ketika orang mendengar istilah Kawin Lari, memberikan kesan kurang baik. Padahal Kawin Lari Sebembangan merupakan tradisi Suku Haji Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan Provinsi Sumatera Selatan. Dan merupakan bagian dari adat.

Sebembangan belum tentu dilakukan karena hubungan muda-mudi itu tidak disetujui orang tua. Pada masa itu, kalau muda-mudi tidak melakukan Sebembangan sepertinya ‘kurang asyik’. Sebembangan bagi Lelaki yg melakukannya juga memiliki gengsi tersendiri karena dinilai memiliki keberanian membawa lari gadis pilihannya.

Kawin Lari Sebembangan terbagi menjadi dua macam ;

Kawin Lari Sebembangan Terang atau Beterang

Biasanya kedua orang tua muda-mudi itu sebenarnya merestui hubungan mereka.tapi karena tradisi waktu itu tetap saja mereka Sebembangan. Tahap awal muda-mudi pergi ke rumah penghulu dan menjelaskan, bahwa mereka memiliki hubungan  cinta dan berniat akan menikah.

Lalu selanjutnya mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.  Langkah berikutnya, pihak keluarga laki-laki akan mengirim utusan guna mendatangi pihak keluarga perempuan untuk bermusyawarah (disebut juga : himpun)  membicarakan tentang niat rencana pernikahan.

Jarang terjadi muda-mudi yang Sebembangan Terang ini batal. Biasanya kedua belah pihak langsung menyepakati tanggal pernikahan.

Kawin Lari Sebembangan Gelop

Disebut Gelop sama dengan gelap. Karena Sebembangan Gelop ini dilakukan tanpa sepengetahuan pihak keluarga perempuan. Alasan memilih Sebembangan Gelop biasanya disebabkan orang tua perempuan tidak merestui hubungan itu.

Atau bisa saja disebabkan sebelumnya si perempuan sudah memiliki calon suami (rasan).Tapi si perempuan lebih memilih menikah dengan lelaki yang membawanya Sebembangan Gelop itu.

Agar tidak ketahuan oleh keluarga perempuan atau misal calon suaminya, maka diam-diam  (biasanya malam hari) si perempuan bersama lelaki pilihannya pergi Sebembangan Gelop.

Kepergian mereka biasanya ditemani oleh minimal satu orang gadis (biasanya teman atau keluarga perempuan yang Sebembangan Gelop) dan 1 orang pemuda/bujang (juga biasanya teman atau saudara  pihak lelaki yang Sebembangan Gelop itu).

Saking rahasianya rencana perjalanan ini, tidak pernah terdengar ada peristiwa penghadangan dari pihak perempuan atau dari pihak manapun dalam perjalanan. Zaman dulu jarang ada kendaraan. Sehingga Sebembangan dilakukan dengan hanya berjalan kaki.

Setelah tiba ke tempat tujuan (biasanya ke rumah penghulu atau kepala desa/Keria) mereka menerangkan bahwa mereka ingin menikah. Pagi-pagi sekali pihak keluarga lelaki mengirim culung (utusan) ke pihak keluarga perempuan guna menjelaskan tentang Sebembangan itu.

Biasanya juga Culung akan mendapat perlakuan kurang baik dalam bentuk omelan atau kata-kata kasar dari pihak keluarga perempuan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat keluarga pihak perempuan mungkin merasa tersinggung anak gadisnya dibawa lari. Tapi tidak pernah terjadi si Culung ini mendapat kekerasan fisik dari pihak keluarga perempuan.

Si Culung biasanya mampu bernegosiasi dengan pihak keluarga perempuan untuk meminta waktu (jadwal) kapan pihak keluarga Lelaki dapat datang ke pihak perempuan guna memusyawarahkan tahap berikutnya.

Setelah mendapat jawaban dari pihak keluarga perempuan barulah si Culung pulang melapor kepada pihak keluarga lelaki. Paling lama seminggu sejak Culung pulang. Dan biasanya keluarga pihak lelaki datang ke pihak perempuan untuk himpun (musyawarah).

Jika musyawarah itu lancar, maka akan disepakati tanggal pernikahan. Tapi bisa saja musyawarah itu jadi alot (rumit),  karena pihak keluarga perempuan minta ‘uang jujur’ alias uang antaran (jujogh) terlalu tinggi kepada pihak Lelaki. Dan ketika tidak ada titik temu dari musyawarah itu, maka bisa saja rencana pernikahan batal. Dan perempuan pulang kembali ke rumah orang tuanya.

Tapi bisa saja walaupun perundingan gagal, namun karena saking cintanya si perempuan pada lelaki yg membawanya Sebembangan Gelop itu, si perempuan tidak mau keluar dari rumah penghulu atau kepala desa  sebelum dinikahkan. Jika terjadi seperti ini, pasti pasangan itu akan dinikahkan oleh penghulu. Namun perihal ini bukan tanpa resiko bagi penghulu. Sering terjadi rumah penghulu dilempari batu oleh keluarga  pihak perempuan saat berlangsung akad nikah.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai mencari solusi-solusi alternatif yang lebih praktis dalam pernikahan. Sekarang ini jika ada muda-mudi ingin menikah, mereka cukup memberi tahu ke orang tua masing-masing. Lalu kedua belah pihak akan himpun (bermusyawarah) untuk membahas hal itu.

Dulu, pemuda-pemudi jarang yang bekerja di sektor formal. Sehingga kalaupun mereka Sebembangan lalu numpang (menetap) di rumah penghulu selama sebulan, hal itu bukan sebuah masalah alias sudah biasa.

Sekarang, ijin cuti menikah dari perusahaan atau kantor paling lama seminggu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here