‘Mantra’ Sabung Ayam Tempo Dulu

0
32
Ilustrasi sabung ayam [Foto : Aji Asmuni Kasidi]

Penulis : Agustam Rachman

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberi contoh buruk bagi kita. Tidak pula bermaksud untuk memberikan citra buruk Suku Haji terkait praktek sabung ayam. Dari cerita ini kita mengetahui, betapa praktek judi sabung ayam begitu keji dan merusak kehidupan masyarakat. Semoga menimbulkan keinsyafan kita untuk menjauhi judi.

Suh, setungkat siambon tali

Remang begantung di awangan

Tuah pusako anak Haji

Andolan puyang Rakian

Kalimat pada satu bait di atas diakhiri dengan menjejakkan kaki kanan ke tanah sebelum ayam Suh dilepaskan di arena gelanggang sabung ayam persawahan Meraki. Ayam Suh diistilahkan sebagai ayam yang memiliki ciri khas dan dianggap ‘bertuah’. Ciri Ayam Suh yang dimaksud adalah, bulu ayam berwarna lengkap, kaki kuning, paruh kuning. Ada brewok warna kelabu tipis di bawah paruhnya. Sisik kakinya belah siring dari lutut sampai pangkal jari.

Bait ‘mantra’ itu dalam bahasa Suku Haji disebut Ceca. Dimaksudkan untuk memberi semangat pada ayam aduannya juga pemberi semangat bagi mereka yang berada di pihak pendukung Ayam Suh. Kata-kata itu juga bisa bertujuan untuk menggentarkan hati pendukung lawan.

Bahkan tak jarang sebelum ayam dilepaskan, seseorang terlebih dulu ‘nyebut’ (membakar kemenyan di dekat gelanggang sabung ayam). Tujuannya memberi tahu ruh leluhur bahwa tidak lama lagi ayam akan diadu dan minta bantuan leluhur supaya dibantu secara gaib supaya menang.

Di gelangganglah semuanya dipertaruhkan dari uang, harga diri, rasa malu. Bahkan nama leluhur yang paling dihormati seperti Puyang Rakian dan Naga Berisang pun turut dibawa-bawa di arena judi. Di gelanggang judi itulah kemusyrikan bercampur jadi satu.

Di era 60-an, ada banyak gelanggang ayam di daerah Haji dan sekitarnya.  Sebutlah misalnya Gelanggang Meraki, Gelanggang Penganjangan (dekat Desa Peninggiran). Ada juga gelanggang terkenal yaitu gelanggang Batu Beranak di Desa Negeri Batin.

Di gelanggang sabung ayam tidak hanya diramaikan oleh praktek sabung ayam. Tapi juga diikuti dengan praktek judi kartu dan Dadu Kuncang. Ada juga para pedagang makanan (lemang ketan dan bubur kolang-kaling menjadi menu favorit di gelanggang) dan minuman. Dan biasanya para  pedagang itu masih memiliki hubungan kekuarga dengan tiang gelanggang atau penangungjawab gelanggang.

Pada masa itu dedengkot judi sabung ayam umumnya dari kalangan kelas menengah. Misalnya Ria (kepala desa), Pembarap (setingkat Pesirah) bahkan seorang Khatib Desa Tanjung Menang Ulu/Nambak juga merangkap sebagai Tiang Gelanggang. (Jaman sekarang jika seorang Khatib berjudi sudah tentu akan dipecat). Praktek-praktek curang sering terjadi. Bisa saja bentuknya persekongkolan dengan tukang bulang (tukang pasang taji ayam) pihak lawan yang akan berlawanan di gelanggang.

Jika sudah ada persekongkolan, berikutnya tinggal ditentukan modus kecurangannya.  Misal tukang bulang akan  memasang pisau taji kwalitas buruk pada ayam pihaknya. Bisa juga tukang bulang pihak lawan sengaja memasang taji ayam yang sudah patah separoh tapi dilem atau ikatan taji ayam pihak lawan sengaja dilonggarkan saat dipasang.

Tentu persekongkolan itu bertujuan supaya ayam lawan kalah. Dan sudah pasti tukang bulang pihak lawan mendapat bayaran dari pihak yang diuntungkan atas pengkhianatan tukang bulang itu.

Ada lagi metode curang yang sangat halus. Yaitu dengan cara ayam direpuk’ (ditotok sayap dan kakinya) supaya ayam tidak bisa melompat saat diadu. Teknik ini dilakukan secara diam-diam. Biasanya malam hari. Tidak diketahui oleh pemilik ayam yang akan direpuk.

Tapi sepanjang sejarah sabung ayam kemampuan merepuk ini hanya dimiliki oleh Senai, dari daerah Kisam. Tentu Senai mendapat uang jasa atas keahliannya ini dari pihak yang menang karena jasa Senai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here