Jurnal Perjalanan : Mengikuti Kegiatan Para Perempuan Penjaga Rimba Bukit Hitam

1
52
Para perempuan tangguh penjaga rimba Bukit Hitam yang juga merupakan bagian dari TWA Bukit Kaba. [Foto : Muhammad Ikhsan]

Bertualang dengan Balita

Malam itu, sebuah notifikasi pesan masuk di WhatsApp Grup Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Isi pesannya ajakan berpartisipasi kegiatan di Desa Batu Ampar. Kegiatan itu tentang penghijauan. Tapi dilakukan oleh sebuah komunitas gender. Komunitas yang terfokus pada perempuan.

Nama komunitasnya Kelompok Perempuan Alam Lestari (PAL) Desa Batu Ampar Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang. Semua anggotanya perempuan. Sementara kegiatan penghijauan itu dilakukan di rimba kaki Bukit Hitam. Yang mana status rimba itu juga bagian dari hutan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba di Provinsi Bengkulu.

Singkatnya, di desa itu ada komunitas khusus perempuan yang menjaga rimba TWA Bukit Kaba. Bukit besar dan menjulang tinggi yang terlihat dari setiap sudut Tanah Rejang. Dan itu ‘dipiara’ oleh ibu-ibu di Desa Batu Ampar.

Dari diskusi di WhatsApp grup itu, yang mengiyakan akan berangkat dua orang. Komi Kendy dan Betty Herlina. Keduanya perempuan. Akhir diskusi saya mengirimkan google map sebagai petunjuk titik kordinat alamat rumahku.

Rumahku di ujung Kabupaten Kepahiang yang berbatasan dengan Curup, Kabupaten Rejang Lebong. Satu sisi, yah… boleh dikatakan saya salah seorang dari anggota AJI Bengkulu yang paling sering berkunjung dan berinteraksi di desa yang akan dituju besok.

Paginya, Rabu 23 Juni 2021, sekitar pukul 9.30 WIB, teleponku berdering. Ternyata dari Betty Herlina yang mengatakan sudah hampir sampai ke rumahku. Beberapa menit kemudian sebuah minivan warna putih tiba di depan rumah. Ternyata isi di mobil itu ada tiga orang. Yang seorang lagi bocah. Umurnya kisaran lima tahunan.

Bocah itu anak sulung Komi Kendy. Sean Kilimanjaro namanya. Panggilannya Sean. Saya tidak banyak tanya kenapa Sean ikut ? Karena saya sudah tahu banyak tentang ibunya yang memang berjiwa petualang sejak di kampus dulu. Jadi sangat wajar jika Sean diajak ibunya ke rimba.

Sempat melepas sedikit penat dan meregangkan otot di rumahku. Karena perjalanan dari Bengkulu menuju rumahku sekitar dua jam lamanya atau sekitar 80 kilometer. Sepuluh menit kemudian kami pun meluncur ke Desa Batu Ampar Kecamatan Merigi.

“Masih jauh desanya?”, kata Betty. “Itu di belakang rumah”, jawabku sambil menunjuk Bukit Hitam yang menjulang tinggi yang terlihat jelas dari rumahku. Jarak dari rumah menuju Desa Batu Ampar sekitar tiga kilometer atau sekitar sepuluh menit berkendara.

Sementara si Sean terus mengoceh kepada ibunya. Memberi isyarat memaksa laju kendara lebih cepat karena sudah tidak sabar ingin melihat air terjun. Karena bagi Sean, tujuan ikut ibunya bukanlah ke seremoni Penanaman Pohon di Kawasan TWA Bukit Kaba. Tapi ke Air Terjun Donok yang ada di desa itu.

Salah seorang anggota Kelompok PAL Desa Batu Ampar Kepahiang yang mengajak anaknya ikut naik ke rimba Bukit Hitam. [Foto : Aji Asmuni Kasidi]
Gambaran Desa Batu Ampar

Secara letak geografis, desa itu berada di sudut. Ketika masuk desa, sepanjang jalan lintas desa pengunjung disuguhkan tanaman hias berbunga di sisi kiri dan kanan jalan. Jika dari gerbang masuk, posisinya mendaki. Rumah-rumah warga yang sederhana menghiasi pemukiman desa. Letak balai desanya berada di tengah-tengah jalan lintasan desa.

Jalan utama lintas desa sudah hotmix. Tapi jalan menuju kaki Bukit Hitam masih bebatuan. Di jalur itu ada Kantor Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Merigi. Di sisi kanan kantor itu ada bangunan beton berupa bak besar penampungan air (intake) milik PDAM Tirta Alami Kepahiang. Pertanda tak lama lagi kami tiba di bawah kaki Bukit Hitam.

Tiba di lokasi, minivan yang dikemudikan Komi Kendy diparkirkan bersama sederet mobil lainnya yang sudah lebih dulu sampai. Parkiran itu tepat di depan pelataran sebuah penggilingan kopi (Huller) milik Yulius. Huller sederhana di desa yang masih sangat alami itu.

Parkiran kendaraan tamu undangan di depan pekarangan Huller milik Yulius. [Foto : Aji Asmuni Kasidi]
Di lokasi sudah ada Dedek Hendry, ‘komandan’ LivE. Dedek tidak sendirian. Ada beberapa lelaki yang juga stand by menunggu kedatangan lainnya. Termasuk ada salah seorang ibu-ibu berseragam PAL.

Komi Kendy seketika bertanya, “Ibu-ibu yang berseragam itu siapa, kak ?”. Ternyata fokus pandangan Komi tertuju pada salah seorang perempuan yang mengenakan kaos lengan panjang warna hijau – kuning dan bertopi rimba warna hijau. Dan di atribut kaos dan topi itu bertuliskan identitas PAL Desa Batu Ampar. Wajar sih, karena Komi di AJI Bengkulu sebagai Kordinator Bidang Perempuan.

“Itu salah seorang ibu-ibu anggota PAL. Mungkin yang lainnya sudah di atas (tengah rimba Hutan Bukit Hitam, red)”, jawabku.

Sedang asyik ngobrol, tak lama ada minivan hitam tiba dan langsung mengatur posisi parkir di belakang mobil kami. Ternyata isi dari mobil itu rombongan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepahiang.

 

Masuk Rimba Langsung Mendaki Bukit Terjal

Tak lama kemudian kami semuanya menuju lokasi titik kordinat penanaman pohon yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari lokasi parkiran. Sekitar 100 langkah, masih jalan datar. Selanjutnya, kami mendaki dengan kemiringan struktur tanah sekitar 60 – 70 derajat. Bisa dibayangkan ‘kan, betapa terjalnya bukit itu ? Hampir tegak turus !

Bagi orang di luar desa, perjalanan itu butuh ekstra energi. Tapi bagi orang desa setempat dianggap biasa karena sudah terbiasa. Saya, Dedek Hendry, Betty Herlina, Komi kendy dan Sean adalah rombongan terakhir yang menuju lokasi titik kumpul. Di depan kami sudah lebih dulu rombongan dari Dinas Lingkungan Hidup Kepahiang.

Komi Kendy dengan anak sulungnya, Sean bersama Dedek Hendry sedang menapaki jalan setapak menuju rimba Bukit Hitam. [Foto : Aji Asmuni Kasidi]
Perjalanan kami santai. Tidak bisa tergesa-gesa karena harus mengiringi Sean. Setelah tebingan awal yang terjal sepanjang sekitar 50 meter itu dilalui, jalan setapak yang dilalui lumayan datar.

Sesekali berjumpa dengan jalan yang berlubang seukuran ban motor dan digenangi air. Itu bukti bahwa jalan setapak itu juga dilintasi motor pekebun. Motor kebun oleh warga setempat digunakan sebagai alat evakuasi hasil panen kopi atau hasil kebun lainnya.

Aroma hutan bercampur wanginya bunga kopi melebur dan terhirup oleh kami. Sungguh kualitas oksigen yang sempurna ketika berada di situ. Alam desa yang masih didominasi pepohonan besar. Pemandangan kebun kopi pun juga mendominasi sepanjang jalan setapak yang dilalui.

Jurang curam dengan kemiringan hingga 70 derajat juga tak luput dari pemandangan di pelintasan jalan setapak menuju punggung Bukit Hitam. Pun curam, jurang itu tetap dipenuhi tanaman kopi jenis Robusta. Sesekali saya pun mengulik-kulik tanaman pakis-pakisan yang tumbuh di pinggir jalan setapak.

Dilansir batuampar.id, desa itu seluas 791,94 hektar (berdasarkan hasil pemetaan partisipatif tahun 2019). 291,48 hektar adalah lokasi perkebunan dan ladang masyarakat. 494,45 hektar diantaranya merupakan kawasan Hutan TWA Bukit Kaba. Dan 6,01 hektar kawasan pemukiman.

Saksikan versi videonya di sini : Video Perjalanan : Bersama Perempuan Tangguh Penjaga Rimba Bukit Hitam Kepahiang

 

Gambaran Kebun Kopi di Kaki Rimba Bukit Hitam

Kembali ke perjalanan menuju titik lokasi tanam. Sisi kiri kanan sepanjang jalan setapak adalah kebun kopi. Setiap kebun kopi ditanami tanaman peneduhnya, Pohon Juar. Warga setempat menyebutnya Pohon Kayu Res. Ada juga tanaman peneduh pohon kopi itu ditanami Pohon Petai Cina/Lamtoro. Menariknya lagi pada tanaman peneduh kopi tumbuh tanaman menjalar. Tanaman yang menjalar itu adalah Lada alias Merica alias Sahang.

Di kebun kopi itu juga banyak ditumbuhi Pohon Aren/Nau, rumpun-rumpun bambu dengan beragam jenis bambu. Pohon Durian, Pohon Alpukat, Pohon Jengkol, Pohon Petai, Pohon Pinang, serta pepohonan kayu keras lainnya. Seperti itulah gambaran cara atau pola berkebun warga di sana.

Sekitar 40 menit berjalan dengan melewati banyak persimpangan kebun, kami pun tiba di pondok kebun sekitar pukul 11.15 WIB. Pondok itu milik Yan. Suami dari Sukmawati yang juga salah seorang anggota PAL. Sukmawati juga merupakan perangkat desa setempat.

Di belakang pondok kebun itu ada lahan sedikit lapang sekitar 10 x 10 meter. Lahan kosong di sekitar pondok fungsinya sebagai tempat menjemur kopi. Ketika kopi sudah kering, dikarungkan lalu diangkut ke rumah di desa untuk selanjutnya dijual ke toke/pengepul. Kopi yang kering tentunya jauh lebih ringan sehingga mempermudah petani untuk evakuasi kopi ke desa. Mengingat hari itu sedang ada kegiatan, lahan lapang tersebut dibentang terpal plastik untuk dijadikan sebagai titik kumpul tamu dan tempat seremoni acara penanaman pohon.

 

Tiba di Pondok Disuguhkan Minuman ‘Istimewa’

Ternyata di lokasi sudah ramai. Selain ibu-ibu PAL, rombongan dari BKSDA Curup dan Dinas Lingkungan Hidup Kepahiang sudah duduk rapi bersila mengitari bentangan terpal. Namun ketika akan melangkah masuk ke area pondok, kami disambut dengan teriakan semangat ibu-ibu PAL. “Ayo sini masuk. Duduk dan minum air aren dulu”, kata Sukmawati pemilik pondok.

Bagi saya, suguhan Air Aren atau Air Nira ini sangat ‘istimewa’.  Istimewa maksudnya khas dan unik. Tidak semua tempat (desa) bisa menyajikan minuman ini. Yan dan Sukmawati ternyata juga sebagai Petani Aren yang setiap hari menyadap Air Nira untuk dijadikan Gula Aren.

Ketua KPAL Maju Bersama Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya, Ritawati yang hadir sebagai undangan terlihat sedang menuangkan Air Nira dari kuali besar di pondok milik pasangan Yan dan Sukmawati. [Foto : Komi Kendy]
Air Nira yang disuguhkan memang bukan murni yang baru dari Batang Arennya. Tapi sudah dimasak. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyobek plastik bagian atas bekas saya minum air minum dalam kemasan (AMDK). Betty dan Komi pun juga mencicipi minuman ‘penyambut tamu’ yang berwarna coklat tua itu. Jelas sangat manis. Serupa kuah kolak. Cuma bedanya tidak pakai santan.

Menurut Wikipedia.org, Nira Aren ini mengandung gula antara 10-15%. Nira mengandung sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Nira yang sudah mengalami fermentasi (pH< 5,5) atau kadar gula reduksinya lebih dari 8% tidak dapat digunakan untuk membuat gula merah. Sebaliknya, Nira yang sesuai untuk membuat gula merah cetak adalah Nira denga kisaran pH 5,5 – 7.

 

Seremoni di Pondok Kebun

Lima menit rehat dan minum Air Nira, tepat pukul 11.30 WIB seremoni dimulai. Semua langsung berkumpul di bentangan terpal. Satu per satu rundown acara digelar. Sambutan dari pejabat daerah dan perangkat desa dilangsungkan pada acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN).

Foto bersama Kelompok PAL Desa Batu Ampar dengan BKSDA Bengkulu dan Dinas Lingkungan Hidup Kepahiang usai opening seremoni Penanaman Pohon di Kawasan TWA Bukit Kaba di pondok kebun milik pasangan Yan dan Sukmawati. [Foto : Muhammad Ikhsan]
Tiga puluh menit berlalu, acara pun ditutup. Namun belum berakhir. Karena akhir dari kegiatan ini adalah penanaman pohon secara simbolis yang dilakukan  oleh para tamu undangan. Dalam hal ini pihak Pemkab Kepahiang atau yang mewakilinya dan BKSDA Bengkulu atau yang mewakilinya.

Sebelum lanjut ke penanaman pohon, ada jeda waktu makan siang dan sholat Dzuhur.  Meski di kebun dan di tengah rimba, ternyata ada fasilitas sholatnya. Memang sih, cuma pondok bambu kecil dan sederhana berukuran sekitar 2 x 2 meter. Tapi saya salut dengan pemilik pondok. Dia memisahkan antara pondok utama (tempat istirahat, masak dan kumpul) dengan pondok tempat sholat.

 

Ada 4.500 Bibit Pohon Yang Akan Ditanam

Jeda ishoma (istirahat sholat dan makan) pun berlalu. Satu persatu semuanya menuju lokasi tempat penanaman pohon yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu PAL. Karena seremoni ini sifatnya simbolis, jadi hanya sekitar puluhan pohon saja yang ditanam ketika itu. Namun selepas ini, masih ada ribuan bibit pohon yang akan ditanam di area TWA Bukit Kaba.

Dari laporan yang disampaikan Supartinah Paksi selaku Ketua PAL Desa Batu Ampar, mereka sudah melakukan pembibitan pohon sebanyak 4.500 batang. Dari ribuan bibit tanaman itu terbagi banyak jenis. Diantaranya, bibit Jengkol, Petai, Nangka, Aren, Bambu, Alpukat, Durian dan lainnya. Upaya pembibitan itu tentunya didukung dari pemerintah desa setempat yang dalam hal ini dialokasikan anggaran melalui Dana Desa Tahun 2020 sebesar Rp 12.863.000,-.

 

Dukungan BKSDA Bengkulu, DLH Kepahiang dan Pihak Lainnya

Sedangkan dukungan yang sudah diberikan oleh BKSDA Bengkulu yakni upaya pemberdayaan masyarakat desa secara umum dan khususnya untuk kelompok PAL. Bentuknya berupa bantuan peralatan dan perlengkapan produksi kuliner. Sebagaimana diketahui desa ini memproduksi produk kuliner lokal. Diantaranya, Gula Aren, Gula Semut Aren, Peyek Daun Kopi, Stick Unji, Stick Rebung dan lainnya. Bantuan ini pun sudah diberikan 2020 lalu.

Selanjutnya, bantuan yang akan diberikan kepada kelompok PAL oleh BKSDA Bengkulu sedang dalam proses. Kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Curup, Said Jauhari, PAL sudah mengajukan Proposal Kemitraan Konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di Blok Rehabilitasi TWA Bukit Kaba.

“Saat ini sedang berproses. Kami juga sudah membantu kelompok PAL mengukur lahan-lahan masyarakat yang terlanjur masuk di kawasan (TWA Bukit Kaba). Itu (lahan,red) ada seluas 23 hektar. Dan nama-namanya sudah dimasukan sesuai dengan nama-nama yang ada di proposal”, kata Said Jauhari di sela-sela kegiatan waktu itu.

Terkait realisasi proposal, Said Jauhari menjawab, pihaknya masih memperbaiki kekurangan dokumen proposal. Jika kelak sudah lengkap, pihaknya akan mengirimkan ke Dirjen KSDAE untuk meminta persetujuan Kemitraan Konservasi di TWA Bukit Kaba di Desa Batu Ampar. Dan jika sudah disetujui nantinya, selanjutnya akan dibuat kontrak kerjasama.

“Kami pun akan selalu mendampingi kelompok PAL ini sampai berhasil (mandiri). PAL Desa Batu Ampar ini dianggap sebagai pilot project. Karena jika dalam 3 tahun kedepan PAL Batu Ampar sudah bisa mandiri, barulah kami akan mendampingi desa lainnya”, begitu tutupnya.

Selain BKSDA, kami mewawancarai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepahiang, Mukhtar Yatib. Kata dia, pihaknya sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan kelompok PAL Desa Batu Ampar.

“Kami berharap di awal tahun anggaran, kelompok PAL mengajukan proposal pembibitan. Nanti akan dibantu dianggarkan dari dana dinas. Bukan melalui Dana Desa. Insyaallah bupati sangat apresiasi dan akan support perihal seperti ini. Ini sangat positif sekali. Karena untuk di Kepahiang, baru Desa Batu Ampar yang sudah memulai dan aktif berkegiatan”, kata Muktar Yatib.

Untuk diketahui juga, PAL Desa Batu Ampar ini didampingi LivE. Lembaga independen yang bergerak diisu perempuan, hutan dan lingkungan hidup. LivE dikomandoi Dedek Hendry dan dibantu Intan Yones Astika.

 

Penanaman Secara Simbolis

Waktu penanaman secara simbolis tiba. Penanaman pohon pertama dilakukan oleh pejabat daerah secara bersamaan. Yakni dimulai oleh Muktar Yatib dan Said Jauhari yang sama-sama menanam Pohon Aren. Selanjutnya penanaman pohon diiring oleh perangkat desa dan kelompok PAL.

Kepala Seksi Wilayah 1 BKSDA Said Jauhari bersama dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kepahiang Mukhtar Yatib berfoto bersama dengan Kelompok PAL Desa Batu Ampar usai menanam pohon. [Foto : Muhammad Ikhsan]
Dua puluh menit berlalu, kami semuanya berangsur turun menapaki jalan setapak menuju parkiran mobil di kaki Bukit Hitam. Sepanjang jalan menuju pulang, sempat berbincang dengan salah seorang ibu-ibu kelompok PAL. Namanya Siti.

Kata Siti, ribuan bibit yang belum ditanam memang menjadi tanggungjawab mereka untuk menanamnya dikemudian hari. Bibit-bibit tanaman yang sudah disediakan itu akan dibagikan kepada warga. Khususnya kepada warga yang kebunnya berada di Blok Rehabilitasi TWA Bukit Kaba.

Selanjutnya pemilik kebun itulah yang nantinya akan mengangkut bibit-bibit itu dari desa lalu dibawa ke kebun/rimba. “Bawa bibitnya tidak mungkin sekaligus. Karena banyak dan berat. Paling tidak caranya diangsur tiap hari atau setiap kali warga ke kebun. Barulah bibit-bibit itu ditanam di kebun,” jelasnya.

 

Penuhi Janji Ke Air Terjun Donok

Sekitar pukul 14.00 WIB, semua sudah berada di lokasi parkiran.  Sebentar saja melepas penat lalu memacu mobil menuju Air Terjun Donok. Jarak dari titik parkiran mobil di kaki rimba Bukit Hitam menuju air terjun sekitar 1 kilometer. Namun sebelumnya sempat mampir beberapa menit di rumah Ketua PAL, Supartinah Paksi.

Tiba di gapura Air Terjun Donok, Betty dan Komi menyempatkan mengabadikan jejak mereka melalui sepetik foto dari handphone mereka. Kemudian bergegas menuju air terjun. Masih serupa dengan perjalanan sebelumnya. Jalan setapak menuju air terjun juga dikelilingi kebun kopi. Bedanya, akses menuju air terjun ini sudah dirabat beton.

Seperti apa perasaan Sean ? Tentulah bahagia. Belum lagi tiba di titik air terjun, sepanjang jalan setapak Sean mengencangkan langkahnya. Dia tidak memedulikan kami yang ditinggalnya. Sean maunya cepat sampai di air terjun.

Sempat melintasi sebidang sawah, lalu bertemu pertigaan. Untuk menuju air terjun, arahnya ke kanan. Di pertigaan ini saya menegur Komi supaya Sean jangan dilepas sendirian. Meski jalan setapak menuju turunan air terjun itu juga dirabat beton, tapi ada beberapa titik yang sisi kirinya jurang curam. Di titik tertentu juga kondisi jalannya lembab dan licin. Sean pun digandeng ibunya hingga ke titik air terjun.

Sean begitu riang mandi di Air Terjun Donok [Foto : Komi Kendy]
“Masyaallaah keren banget”. Begitu teriak Betty ketika sampai di titik air terjun. “Eksotik sekali air terjunnya”, teriaknya lagi. Sementara Komi fokus dengan merekam suasana di air terjun dengan kamera DSLR nya. Lalu si Sean ngapain ? Sean riang gembira mandi di air terjun. Lalu saya ? Saya kebagian mengawasi Sean.

Sayang tak bisa lama. Mendung yang sudah menyelimuti tepat di atas kami. Awan kelabu itu tak mampu menahan lagi dan gerimis pun berjatuhan. Kian detik kian deras hujannya. Akhirnya kami pun beranjak dari air terjun. Sampai di pertigaan rehat sejenak di pondok. Tidak begitu kuyup memang. Tapi basah di pakaian cukup meresahkan.

Sean ? Dia masih bersuka cita. Hanya sedikit lesu terlihat di wajahnya karena merasa begitu cepat mandi di air terjun. Bocah sekecil itu tidak tampak lelah. Yang ada dibenaknya semangat bertualang. Tapi saya tak heran. Karena dia turunan dari darah daging yang kedua orangtuanya memang petualang.

Tepat azan Ashar kami sudah di gerbang air terjun lagi untuk menuju pulang. Kedua perempuan tangguh bersama bocah itu pun kembali melanjutkan perjalanan selama dua jam menuju Kota Bengkulu. Sampai jumpa. Desa Batu Ampar menanti kalian lagi di lain waktu.

 

======================================

Laporan : Aji Asmuni Kasidi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here