Farida Sang Pelestari Khas Rejang Melalui Kuliner

0
8

RedAksiBengkulu.Com, KEPAHIANG – Suku Rejang memang memiliki ciri Khas tersendiri, mulai dari bahasanya yang memiliki dialek yang unik, tulisan dengan huruf Kaganga-nya dan kuliner yang salah satunya dari bahan baku Bambu Muda atau biasa disebut Rebung yang kelola menjadi Makanan Lema yang memang menjadi kuliner Khas Rejang.  Rumah makam Sederhana masakan Rejang milik Farida menyediakan hampir puluhan jenis makanan yang memang asli milik rejang dan pastinya Lema salah satunya. Berada dipusat kota tepatnya di RT 12 RW 5 Kelurahan Dusun Kepahiang Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang sebelah kanan jika kita mengarah Kota Bengkulu. Farida bersama suaminya Kiagus Deni Satria Mandala 10 tahun lalu memulai usaha membuka usaha manisan dan jual bensin eceran, namun dikarenakan kalah bersaing dan keterbatasan modal omset usahanya tak meningkat. Tak putus asa , mencoba membuka warung makan kecil-kecilan pada umumnya dengan menu tambahan makanan Sambal Unji yang merupakan makanan Khas Rejang. “ Awalnya yang sering belanja diwarung kami supir BUS SAN berkomentar soal rasa makanan yang begitu dekat dengan rasa makanan rejang yang biasa dimakan saat dikebun, dan pelanggan menjadi langganan kami dan timbul inisiatif menjadikan seluruh menu makanan  tradisional rejang karna sebagai pembeda dari Warung makan pada umumnya” Ujar Farida

Lanjut Farida, bermodalkan bekal karena sering membantu ibunya memasak sewaktu muda akhirnya memberanikan diri memasak seluruh menu makanan Khas rejang dalam skala besar diantaranya sambal asam rebung, sambal lema, sambal unji, sambal rujak, sambal rujak siput, tempoyak, sambal glapang, dll. “ tak ada resep special, namun dulu sering membantu ibu memasak jadi saya coba-coba dengan tidak meninggalkan satu jenis bumbu setiap jenis masakan dan Alhamdulillah pelanggan kami lumayan rami sekarang” Jelas Farida.

Menurut Farida, Awalnya merintis bukanlah hal yang gampang sempat nasi yang dimasak sebanyak 8 Kg tak habis dan terbuang sia-sia dikarenakan tidak ada pelanggan. Namun sekarang dengan mempertahankan ciri-khas tersendiri banyak pula pesanan dalam jumlah besar. “ 2 tahun kami merintis sampai sekarang hampir 10 Tahun bukanlah hal yang gampang pernah dulu tidak ada pelanggan terbuang sia-sia sekarang sering dari instansi pemerintah saat ada acara memesan dalam jumlah yang besar” Ujar Farida

Selain itu juga, Selama menjalani usaha tak sedikit kendala yang dihadapi mulai dari hutang para pelanggan yang tidak bayar hingga pesanan yang gagal dan bahan baku yang terkadang sulit di dapat. “ kami memasak secukupnya modal setiap harinya Rp 1,5 Juta seluruh masakan, terkadang kendala bahan baku yang sulit di dapat seperti unji jika banyak dipasaran kami memasak jika tidak kami alihkan dengan menu yang lain. Rata –rata pukul 14.00 WIB masakan kami sudah habis lumayan keuntungan bisa menambah tabungan keluarga” Timpal Farida

Meski namanya rumah makan rejang Pelanggan yang datang tak hanya dari kalangan orang rejang saja bahkan pernah orang medan makan jenis sambal unji mirip dengan masakan yang ada di-wilayahnya. “ Orang batak juga ada yang makan, katanya sambal unji mirip dengan rasa sambal yang ada kampung halamannya” Tutup Farida

Disinggung soal pelestarian makanan Khas Rejang, Farida berpesan jika kita mesti mencintai apa yang memang kita miliki sebagai ciri khas, dan siapa sangka bukti kecintaan kita kepada Suku kita justru memberi jalan pada kita untuk mendapat keuntungan tanpa membanding-bandingkan Suku Lainnya. “ kada kebanyakan kita malu akan adat atau suku kita,ini buktinya kecintaan kita pada suku kita menjadi dampak baik bagi kami tanpa harus membandingkan dengan suku-suku lainnya” Ujar Farida.

Laporan : Hendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here