Jalaludin, Tuna Netra yang Survive dengan Menembang di Pinggir Jalan

0
74
Jalaludin, yang kesehariannya menembang di pinggir jalan. [Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu.com]

Percaya atau tidak, alunan nada dari sebuah gitar mampu mengenang kampung halaman ? Simak kisah penembang tuna netra yang kesehariannya menembang di pinggir jalan yang tak jauh dari tempat tinggal dia. Tepatnya di depan Rumah Sakit Dua Jalur perbatasan Curup – Kepahiang.

Pria paruhbaya itu namanya Jalaludin bin Yusuf. Penembang lagu melayu yang tidak ingin dikatakan sebagai pengamen. Kesehariannya ia menembang di pinggir jalan lintas. Jalan lintas dua jalur Kecamatan Merigi menuju Terminal Simpang Nangka Curup. Meski jalur lintas, tapi sepi.

Setiap kali duduk di atas loneng di depan gang menuju rumahnya, ia selalu menembang. Melodi yang dimainkan adalah musik khas Rejang dan Semende. Dari gemulai jari jemarinya di senar gitar itu ia selalu menghayati lagu-lagu yang dimainkan. Meski ia tak peduli ada yang mendengar atau tidak.

68 tahun silam  ia dilahirkan di Desa Batu Panco Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong. Jalaludin mengalami kebutaan sejak umur 4 bulan. Efek dari penyakit yang ia alami ketika itu yaitu penyakit kulit.  Kini ia tinggal bersama istrinya, Yesi Aryani dan 2 anak lelakinya yang kian beranjak dewasa. Alamat rumahnya di RT 14 RW 04 Kelurahan Durian Depun Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang – Bengkulu.

Ketika ditanya jika ia tak mengamen, lantas seperti apa Jalal bertahan hidup (survival) dalam menafkahi keluarganya ? Jalal mengaku tak pernah pesimis dalam melalui hari-harinya. Lantas seperti apa cara dia bertahan hidup (survival) dalam menafkahi keluarganya ? Jalal ternyata juga bisa memijat. Ia sering dimintai tolong oleh warga sekitar memijat. Tarifnya ? Jalal tak pernah menyebutkan nominal. Ia hanya menerima keikhlasan si pemberi.

Namun tetap, aktivitas sehari-hari dia menembang. Jika hari terang, ia mulai duduk di loneng ketika matahari beranjak naik hingga menjelang tenggelam. Hanya saja setiap menjelang waktu sholat ia pulang ke rumah yang berjarak skitar 100 meter. Barulah setelah sholat ia kembali menembang di pinggir jalan. Siklus itu ia lakukan setiap hari kecuali hujan.

Ketika mendengarkan petikan gitar yang ia sendiri menyebutnya petikan gitar tunggal atau tembang klasik, Jalal lebih banyak mengimprovisasi liriknya. Pernah suatu hari, ketika Jalal sedang menembang, ada orang yang mendengar dan duduk di sebelah dia. Orang itu bilang teringat sama kampung halamannya.

“Saya karang-karang saja kata-kata (lirik) nya. Orang yang mendengar itu mengaku terharu dan rindu pulang ke dusunnya. Karena sejak berada di perantauan belum pernah pulang”, tutur Jalal sembari menjelaskan sejak menembang 14 tahun lalu, ia mengaku sudah 3 kali ganti gitar.

Rumah Jalaludin yang ukurannya kurang lebih 6 x 3 meter. [Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu.com]
Beruntung Jalal tidak dipersoalkan dengan tempat tinggal. Jalal dan keluarganya tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang dihuninya itu bagian dari hasil bagi warisan keluarganya. Tak besar, namun sudah permanen. Kurang lebih ukuran rumahnya sekitar 6 x 3 meter. Hanya saja bagian belakang rumah Jalal sedikit memprihatinkan. Kondisi WC dan bagian dapurnya masih darurat. Kalau hujan, dapur rumahnya serasa tak berfungsi. Becek dan kotor.

Kondisi dapur darurat rumah Jalaludin. [Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu.com]
Bangunan rumahnya memiliki 2 kamar.  Satu kamar difungsikan sebagai kamar tidur ia dan istrinya. Yang sekamar lagi difungsikan untuk dapur dan tempat penyimpanan barang-barang yang tak terpakai. Mengingat dapur di belakang masih dalam kondisi darurat. Sedang anak-anaknya tidur di ruang tengah.

“Alhamdulillaah walau kecil dan apa adanya, kami tidak kehujanan dan kepanasan”, tutup Jalaludin.

Kondisi WC darurat rumah Jalaludin. [Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu.com]
Anak sulungnya bernama Rahmat. Usianya sudah 14 tahun. Meski anak sulungnya tak mengenyam bangku sekolah, Jalal bersyukur anak sulungnya sudah bisa membantu perekonomian keluarganya. Rahmat tak malu menjadi petani upahan. Dalam sehari, Rahmat diupah Rp 40 – 50 ribu. Sedangkan putra bungsunya kini di SD.

Satu hal lagi tentang Jalal ketika diwawancarai, ia sering bergurau. Mudah senyum dan tertawa. Setiap kali menembang di pinggir jalan, Jalal selalu mengenakan songkok hitam bermotif. Kadang berbaju koko dan kadang mengenakan batik. Meski pakaiannya itu-itu saja silih berganti.

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here