Sebuah Karya Tentang Sisi Lain Bengkulu Dalam Kegelisahan dan Keprihatinan

0
55
Iswandi Limin alias Swend, Aktor pada Monolog Teater “Senok Biji Durian” (kaos kuning) bersama Zhuan Zhulian, Sang Sutradara. (Foto : ist)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – “Sebuah karya yang dipentaskan berangkat dari keprihatinan atas berbagai kondisi daerah kita (Bengkulu). Yang mana pemerintah (Bengkulu) terkesan tidak peduli mengangkat potensi-potensi lokal yang dimiliki”, ujar Iswandi Limin alias Swend, Aktor pementasan monolog “Senok Biji Durian” karya Zhuan Zhulian yang dipentaskan di Caffe The Fellowship Of Konakito Bengkulu, Sabtu (28/10/2017) malam.

Dilanjutkan Swend, sapaan akrab sang aktor, pada gelaran Festival Tabut 2017, pemerintah selaku penyelenggara Festival Tabut tidak memberi ruang bagi pelaku usaha khas lokal. Misalnya, stand makanan atau jajanan khas Bengkulu tidak terlihat. Mirisnya lagi, lanjutnya, justru makanan dan jajanan khas dari luar daerah begitu mendominasi.

“Yang jualan Dodol (Bandung) yang merupakan makanan khas dari luar Bengkulu malah banyak sekali. Kebalikannya, kita tidak menemukan penjual Gelamai makanan khas Bengkulu,” keluh Swend.

Biaya sewa stand yang mencapai Rp 7 juta menurut Swend menjadi indikator produsen atau penjual Gelamai dan makanan khas Bengkulu lainnya enggan berpartisipasi di ajang besar tahunan Provinsi Bengkulu itu. Semestinya pemerintah dalam hal ini memperlakukan produk lokal dengan baik demi menyambut Visit Bengkulu 2020 mendatang.

“Tapi kenyataannya demikian. Bagaimana produk lokal mau dikenal dan maju jika diperlakukan seperti ini terus. Dan kenapa kita selalu bangga dengan produk luar daerah Bengkulu, sementara produk khas Bengkulu begitu melimpah dan mampu bersaing”, sambung Swend.

Kritikan di atas sebagai bentuk apresiasi Lintas Komunitas Seni (LKS) di Bengkulu supaya pemerintah daerah bisa memperbaiki kinerja dan kedepannya bisa merangkul seluruh elemen masyarakat tidak terkecuali komunitas seni di Bengkulu. Mengingat, program promosi daerah Visit Bengkulu 2020, bahwa sektor pariwisata tidak mungkin bisa lepas dari sektor usaha kecil menengah (UKM).

“Terlepas dari perihal di atas, tidak menyebabkan para seniman Bengkulu berhenti berkarya”, demikian Swend.

Diketahui, pementasan yang melibatkan Seniman Bengkulu dari berbagai divisi ini mampu memukau para pengunjung di Caffe Konakito. Pementasan tersebut didukung oleh kru, yakni M Afif sebagai Penata Artistik. M Apriady, Sesario, Alex Cacing, Danil, MF. Nofriandi, Remi Ramadhan, Rena, Yurika, Ahmad Sarjoni dan Dika Putra. Pentas berdurasi kurang lebih 45 menit ini digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

 

Sinopsis ‘Senok Biji Durian’

Bengkulu sekarang merupakan wujud wajah seorang pengembara yang telah jauh meninggalkan ke-dusunannya namun terlalu jauh untuk menjangkau perkotaan. Kegelisahan generasi muda yang tak tau ingin dibawa kemana, mendapati hal-hal baru yang kian terserap  tanpa  memiliki pengetahuan tentang hal-hal lama cita rasa asli khas Bengkulu, budaya orang Bengkulu. Sering kali membuat mereka terlihat sangat memaksakan ingin diakui sebagai sosok modern namun tetap tidak masuk dalam hitungan dunia malah terlihat sama. “Akar dak ado, pucuk dak tau dimano”.

Kebudayaan Bengkulu dirayakan secara besar-besaran dalam Festival Tabut setiap tahunnya. Kokoh berdiri Tabut memenuhi kota selama 10 hari. Tapi suasana Tabut itu sendiri belum bisa didapatkan di dalam rangkaian festival tahunan tadi. Dipenuhi dengan para penjual yang entah dari mana menyesakan jalanan menjual barang khas daerah mereka yang pastinya bukan dari Bengkulu. Malah Tabut lebih bisa dirasakan ketika semua sanggar di seluruh sudut kota menggelar latihan menari dan bermain musik meski hanya menggunakan baju rumahan, tanpa kemewahan.

Keadaan demikian tidak boleh berdiam aksi dan menunggu kesadaraan antar elemen di Bengkulu termasuk di dalamnya pemerintah dan masyarakatnya sendiri. Bagaimanapun juga tetap ada anak muda yang masih peduli dengan bangsa dan budayanya.

Adalah Lintas Komunitas Seni (LKS) yang merupakan campuran berbagai seniman yang rutin menggelar kesenian sederhana khas ramah tamah Bengkulu. Maka dari itu Lintas Komunitas Seni mengadakan hajatan silahturahmi dengan media Pementasan Monolog yang berjudul “Senok Biji Durian”.

Hajatan ini bertempat di The Fellowship Of Konakito yang mana di sini adalah media bagi para generasi muda untuk tampil dan untuk mengenal kebudayaan Bengkulu sedikit demi sedikit. Dengan cara menjalankan hak berkumpul dan berekspresi tanpa menghilangkan nilai-nilai kebudayaannya sendiri.

Namun hajatan ini teman-teman LKS dan Konakito hanya mampu menjamu “Senok Pisang” untuk siapapun yang hadir.  Hal ini merupakan wujud refleksi dari tergantikannya Kebudayaan Bengkulu oleh Kebudayaan yang lain.

Sejauh apa perjalanan membawa sang pengembara meresapi setiap hal yang ia temui, sebanyak apa nilai-nilai yang ia lupakan. Sesungguh apa ia memperjuangkannya. Senok Biji Durian. (Rilis)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here