Warga Tapal Batas Bengkulu Utara dengan Lebong Ributkan Pembangunan Gapura Tapal Batas

0
71
Pertemuan yang diadakan warga, TNI dan pihak Kecamatan Giri Mulya serta Kades Rena Jaya, atas penolakan warga terhadap pembangunan tapal batas Kabupaten Bengkulu Utara dengan Kabupaten Lebong. (Foto : ist)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU UTARA – Persoalan tapal batas (tabat) Kabupaten Bengkulu Utara (BU) dengan Kabupaten Lebong, masih saja ada. Padahal persoalan tabat tersebut sudah dianggap klir karena sudah diterbitkan Permendagri Nomor 20 Tahun 2015 tentang Batas Daerah Kabuapten Bengkulu Utara Dengan Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu.

Namun sepertinya warga eks Desa Padang Bano (versi Kabupaten Lebong) masih belum terima jika mereka masuk ke wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Ini diketahui ketika ada pekerja akan membuat bangunan tapal batas namun warga setempat kesannya tidak terima. Diduga aksi warga ini disusupi provokator.

Dipaparkan Nudiarto, warga eks Desa Padang Bano, ia tidak menampik adanya ribut-ribut soal pembangunan tapal batas tersebut.

“Tapal batas itu akan dibangun Gapura Selamat Datang. Tapi sempat dihentikan warga yang menolak dibangun gapura tersebut”, akunya.

Camat Giri Mulya Kabupaten Bengkulu Utara Imam Farkhan membenarkan adanya penolakan warga yang menahan pekerjaan Gapura Selamat Datang tersebut di batas daerah Kabupaten Bengkulu Utara dengan Kabupaten Lebong itu. Camat juga kebingungan dengan sikap warga tersebut. Beruntung aksi itu bisa diredam setelah beberapa personil dari Kodim 0423 Bengkulu Utara turun ke lokasi.

“Para TNI itu mengajak masyarakat untuk mengadakan pertemuan, namun sampai saat ini belum diketahui apa hasilnya”, tutur camat.

Sebelumnya, diduga telah terjadi pengancaman terhadap pekerja yang sedang bekerja membangun gapura tapal batas tersebut oleh orang tak dikenal. Disebut-sebut juga salah seorang yang datang mengancam itu adalah Kepala Desa Padang Bano. Mereka yang datang menemui pekerja bangunan gapura itu diduga mengancam akan mengerahkan massa lebih banyak jika bangunan gapura itu tetap dilanjutkan.

Namun untungnya tidak ada aksi anarki mengingat secara bersamaan ada anggota Koramil sedang monitor kegiatan di lokasi tersebut. Mengetahui hal itu, anggota TNI itu atas instruksi pimpinannya dari Kodim 0423/BU langsung berkoordinasi dengan anggota Tripika, Kapolsek Giri Mulya dan Camat Giri Mulya.

Keterlibatan TNI tentunya dalam hal membantu Pemda Bengkulu Utara sesuai surat Bupati Bengkulu Utara kepada Kodim 0423/BU dan Polres Bengkulu Utara untuk ikut serta mengamankan wilayah perbatasan tersebut. Ini juga untuk menghindari adanya konflik horizontal di masyarakat.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Firdaus
Editor : Aji Asmuni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here