Mengapa Rasulullaah Tidak Tarawih Berjemaah Sebulan Penuh ? Ini Jawabannya

0
73

Apakah disyariatkan shalat tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak Shalat Tarawih secara berjemaah secara terus-menerus ?

Syaikh Abdullah bin Jibrin Rahimahullaah pernah ditanya, “Apakah disyariatkan Shalat Tarawih secara berjemaah di bulan Ramadhan? Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak Shalat Tarawih secara berjemaah secara terus-menerus?”.

Beliau menjawab :

Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan ;

المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة
“Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya Shalat Tarawih secara berjemaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa, bahwa Imam Ahmad berkata: ‘secara berjemaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Shalat Tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: ‘teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat Hadis dari Ibnu Umar bahwa beliau melaksanakan Shalat Tarawih secara berjemaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan ; ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka Shalat Tarawih secara berjemaah”. [selesai perkataan Ibnu Qudamah].

Adapun Hadits yang marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah Radhiallaahu’Anha, ia berkata ;

صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قال
قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada Beliau. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama Beliau, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak keluar. Ketika pagi hari tiba Beliau bersabda ; ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika bulan Ramadhan”.

Dan juga dari Abu Hurairah Radhiallaahu’Anhu, ia berkata ;
“Suatu ketika Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar. Beliau melihat orang-orang shalat (tarawih) di masjid pada bulan Ramadhan. Nabi bertanya: ‘apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘mereka adalah orang-orang yang tidak punya Al-Qur’an, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi bersabda: ‘mereka melakukan hal yang benar, dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan” (HR. Abu Daud).

Terdapat hadits juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah Radhiallaahu’Anha;

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال

“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”
“Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabat pun bermakmum kepada Beliau. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada Beliau. Di pagi hari, orang-orang pun membicarakan hal tersebut. Sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar lagi untuk shalat dan orang-orang pun bermakmum kepada Beliau. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam belum juga keluar, hingga datang waktu subuh baru beliau keluar. Setelah selesai Shalat Subuh Nabi menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), Beliau membaca syahadat, lalu berkata ; ‘amma ba’du, apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya”.

 

Rasulullaah Khawatir Shalat Tarawih Menjadi Wajib

Dalam hadits-hadits ini kita ketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Shalat Tarawih berjemaah bersama sebagian sahabatnya. Namun Beliau tidak melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadhan). Alasannya adalah, karena Beliau khawatir Shalat Tarawih diwajibkan atas umat Beliau. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar Radhiallaahu’Anhu mengumpulkan orang-orang untuk Shalat Tarawih berjemaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata ;

خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب
“Aku keluar bersama Umar Radhiallaahu’Anhu pada suatu malam bulan Ramadhan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jemaah bersama beberapa orang. Umar berkata ; ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umar pun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk Shalat Tarawih berjemaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.

 

Sumber : muslim.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here