Dirut PT. STU Kembali Diperiksa, Aspidsus Kejati Bengkulu : Mengarah Penetapan Tersangka

0
62

Laporan : Julio Rinaldi

Aspidsus Kejati Bengkulu, Henri Nainggolan (Foto : Julio Rinaldi/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu kembali memeriksa Direktur Utama (Dirut)  PT Sumber Tratindo Utama, Lie End Jun, Jum’at (19/5/2017) pagi, dalam kasus dugaan korupsi Proyek Jalan Lapen Pulau Enggano Tahun 2016. Pemeriksaan itu pemeriksaan ketiga kalinya sebagai saksi.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu, Sendjun Manulang melalui Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Henri Nainggolan mengungkapkan, bahwa pemanggilan kembali saksi Lie End Jun guna mendalami lagi kasus tersebut lantaran penyidik sebelumnya sudah mengumpulkan keterangan saksi lainnya.

“Pemanggilan dan pemeriksaan ini untuk memperdalam kasusnya karena memang sebelumnya penyidik sudah mengumpulkan keterangan beberapa saksi-saksi lain. Jadi, kalau sudah mengarah kepada yang melakukan pekerjaan, mungkin nanti akan mengarah kepada penetapan tersangka”, kata Henri di ruang kerjanya.

Namun demikian, lanjut Henri, timnya nanti akan mengekspos internal lagi supaya mengerucutkan siapa-siapa saja calon tersangkanya dalam kasus ini.

Disinggung pernyataan saksi Lie End Jun bahwa pekerjaan tersebut sudah sesuai spek, Henri menjawab silakan saja karena itu versi dari dia (Lie End Jun).

“Tapi menurut jaksa lain lagi. Makanya jaksa mau memperdalam,” ujarnya.

 

Berita Terkait :

Kasus Jalan di Pulau Enggano, Kontraktor dan Suplier Diperiksa Penyidik Kejati Bengkulu

Lagi, Direktur PT Sumber Tratindo Utama Diperiksa Penyidik Kejati Bengkulu

 

Dia (Lie End Jun) membicarakan bahwa proyek itu selesai. Tapi fakta di lapangan, sambung Henri, tim dan ahli yang turun banyak mendapatkan banyak temuan. Itu artinya, tim bukan asal-asalan atau tiba-tiba hanya dengan kasat mata bisa menentukan ada temuan. Tapi apa yang menjadi temuan itu sudah diperiksa ahlinya dalam mengecek dan melihat apakah sesuai dengan spek atau tidak.

“Dan ahli lah yang menyimpulkan, dan bahan itu kami kumpulkan,” jelas Henri.

Lalu ada juga ahli BPKP yang dipanggil untuk menghitung antara kerugian dengan cek fisik yang dilakukan tim ahli. Namun ahli itu hanya menghitung fisik dan bukan soal angka-angkanya.

“Makanya BPKP lah yang dipanggil untuk menghitung angka-angkanya”, lanjut Henri.

Tambahnya, dari fakta di lapangan dan hasil ekspos, pihaknya tidak mungkin menaikan status perkara ini ke penyidikan jika tidak ada ditemukan penyimpangan. Mengingat perkara ini awalnya dari penyelidikan, dan setelah dikumpulkan bukti-bukti maka perkara ini naik penyidikan.

“Nah kalau sudah penyidikan, secara matang maka akan tampak siapa-siapa saja pelakunya ini”, demikian Henri Nainggolan.

Pantauan RedAksiBengkulu.co.id, saksi mengenakan baju merah ketika diperiksa sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here