Buruh Tani di Kaki Bukit Kaba Ini Alami Kebutaan Dan Tak Bisa Nikmati Fasilitas BPJS

0
57

Laporan : Aji Asmuni

Rumah Suhardi, di Dusun 6 Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu atau di bawah kaki Bukit Kaba. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Sejak sekitar 45 hari lalu, Suhardi, warga Dusun 6 Desa Sumber Urip Kecamatan Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, mengalami kebutaan. Pria berusia 52 tahun memiliki 3 anak ini, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Kebutaan yang dialami Suhardi secara berangsur. Gejala awalnya Suhardi mengaku sedikit rabun. Lama kelamaan, penglihatan dan pandangan dia semakin kabur. Hingga akhirnya pada awal Maret lalu, ia benar-benar mengalami semuanya jadi gelap total. Sekalipun kondisi matanya kini dalam posisi terbuka, tapi ia tak bisa melihat apa-apa.

Belum diketahui pasti apakah Suhardi mengalami kebutaan karena Katarak atau karena kerusakan pada syaraf sehingga menyebabkan kebutaan. Karena dari hasil diagnosa di Puskesmas Sumber Urip dan RSUD Curup, berbeda.

Dituturkan Rudi (20), anak sulung Suhardi, dari hasil diagnosa di Puskesmas Sumber Urip pada Rabu (12/4/2017) lalu, penyakit mata yang dialami bapaknya itu dinyatakan adanya kerusakan syaraf. Oleh puskesmas setempat, pasien dirujuk ke RSUD Curup. Pada hari itu juga, Suhardi dan anaknya ke Poli Mata RSUD Curup. Dari sana dinyatakan, bahwa Suhardi mengalami kebutaan karena Katarak.

Pihak rumah sakit pun menyarankan, sebelum terlambat mengalami kebutaan permanen, Suhardi harus segera dioperasi. Estimasi biaya yang dibutuhkan kisaran Rp 3 – 5 juta, jika pengobatan dilakukan secara umum.

Sewaktu di rumah sakit, kata Rudi, informasinya ada operasi Mata Katarak gratis. Ia pun berupaya mendaftarkan bapaknya jadi peserta operasi Mata Katarak gratis. Hanya saja Rudi sendiri bingung apakah sudah didaftarkan atau belum bapaknya sebagai peserta operasi Mata Katarak gratis.

Karena, baik pasien Suhardi maupun Rudi sang anak, tidak memiliki bukti pendaftaran tersebut. Dan sayang, kabar operasi Mata Katarak gratis itu belakang diketahui diundur hingga Juli 2017.

Upaya lain pun tetap ditempuh demi kesembuhan Suhardi. Namun kendala menghadang. Ketika upaya pengobatan mata Suhardi itu ingin dibiayai melalui fasilitas BPJS Kesehatan, ternyata Kartu BPJS Kesehatan yang dimiliki Suhardi tidak bisa digunakan, karena tunggakan.

Rudi yang selama ini kesehariannya membantu sang bapak bertani dan sebagai tulang punggung keluarganya, terpaksa melepaskan aktivitasnya bertani demi merawat dan berjuang mengobati bapaknya. Rudi pun harus berhadapan dengan birokrasi.

Pada Selasa (18/4/2017), Rudi mengurus kartu BPJS Kesehatan. Dari pihak BPJS Kesehatan disarankan untuk meminta rekomendasi dari Dinas Kesehatan Rejang Lebong. Pihak BPJS Kesehatan pun memberikan persyaratan yang harus dilengkapi guna mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan tersebut.

“Tidak diterima kartu BPJS Kesehatan bapak, karena tunggakannya sekitar 2 tahun. Kami pikir, sewaktu kami menerima kartu (BPJS Kesehatan mandiri) itu, kami tidak perlu bayar ini itu. Maklumlah, kami gak ngerti. Saya sendiri saja cuma batas SD sekolahnya,” tutur Rudi kepada RedAksiBengkulu.co.id.

Untuk diketahui, jarak lokasi ladang atau kebun Suhardi dari rumahnya sekitar 2 kilometer mengarah ke puncak Bukit Kaba. Tentunya ditempuh dengan berjalan kaki. Pola Suhardi bertani dengan cara menyewa lahan. Istri Suhardi sudah meninggal sekitar 4 tahun lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here