Muslimah HTI Bengkulu : Generasi Muda Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

0
62

Laporan : Tata Riri

Forum Mutiara Peradaban yang digelar Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Provinsi Bengkulu. (Foto : Tata Riri/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu, BENGKULU – “Generasi muda bangsa saat ini sangat memprihatinkan. Banyaknya permasalahan yang dialami generasi muda merupakan persoalan kita semua, terlebih lagi para orang tua. Peran orang tua sangat berarti untuk tumbuh kembang anak”, kata Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Provinsi Bengkulu, Sri Sulastri saat mengisi materi pada Forum Mutiara Peradaban Rabu (22/3/2017) pagi.

Forum yang membahas tentang pendidikan ini, bahwa dalam Undang-undang Dasar (UUD) Tahun 1945 pada Pasal 31 dijelaskan, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun kenyataannya, masih banyak warga Indonesia yang belum mendapatkan hak pendidikannya. Padahal pendidikan sangat berperan dalam pembangunan bangsa.

Di sisi lain, sambung Sri, permasalahan angka anak putus sekolah di Indonesia sangat tinggi. Diketahui, tahun 2016 ada 11.522 anak yang putus sekolah. Permasalahan pendidikan ini tentu bukanlah permasalahan biasa. Ini butuh perhatian serius pemerintah dan semua kalangan.

Bahkan permasalahan lain yang tak kalah pentingnya, bahwa saat ini generasi muda Indonesia mengalami krisis moral dan etika. Itu dibuktikan banyaknya permasalahan terkait generasi muda saat ini.

“Contoh, banyaknya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar bahkan berdasarkan data yang dperoleh, 80 persen pengguna narkoba itu justru dilakukan pelajar di usia 17 tahun ke atas”, imbuh Sri.

Perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Hj Megawati mengatakan, sudah menjadi rahasia umum jika generasi muda saat ini terancam dengan banyaknya permasalahan. Seperti narkoba, kekerasan dan lain-lain. Untuk itu sebagai orang tua diharapkan menjadi super protector dalam mengawasi anak-anaknya. Serta memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak.

“Sangat penting menjalin komunikasi dan keakraban dengan anak agar terhindar dari perilaku menyimpang. Satu sisi dari fenomena ini, kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa namun lebih kepada fokus perannya masing-masing. Di sisi lain, orang tua juga harus tegas kepada anak agar perilaku mereka dapat dikendalikan”, kata Megawati.

Lingkungan pergaulan juga sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Orang tua diminta ekstra waspada terhadap pergaulan anak-anak agar anak bisa mengendalikan diri terhindar dari pergaulan bebas yang menyimpang. Pasalnya, anak dapat belajar dari perilaku orang lain yang ia temui sehingga memudahkan mereka untuk mengikuti perilaku mereka.

Persoalan pendidikan di Indonesia, seperti biaya pendidikan, tidak serta merta menjadi penyebab permasalahan anak. Sudut pandang lainnya adalah rendahnya kemauan anak untuk belajar juga menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.

“Kita lihat juga kemauan anak bersekolah mau atau tidak? Jika biaya sudah ada, tapi anak malas bersekolah, sama saja nol. Oleh karenanya, penting sekali komunikasi antara orang tua dengan anak”, pungkasnya.

Kegiatan ini juga turut mengundang Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak, tokoh masyarakat, serta praktisi pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here