INFID : Radikalisme Timbul Dari Pemahaman Agama Yang Tak Tuntas

0
57

Laporan : Tata Riri

Diskusi Publik INFID bertajuk ‘Persepsi dan Sikap Generasi Muda terhadap Radikalisme dan Ekstrimisme Kekerasan’, di Gedung Bapelkes Bengkulu, (Foto : Tata Riri/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Survei yang dilakukan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) kepada generasi muda mengenai radikalisme dan ekstrimisme menunjukkan, bahwa penyebab timbulnya radikalisme berbasis agama di Indonesia karena pemahaman agama yang tidak tuntas. Penjelasan mengenai survei ini dijabarkan Peneliti INFID, Isvahani dalam Diskusi Publik bertajuk ‘Persepsi dan Sikap Generasi Muda terhadap Radikalisme dan Ekstrimisme Kekerasan’, di Gedung Badan Pelayanan Kesehatan (Bapelkes) Bengkulu, Selasa (31/1/2017) siang.

Isvahani menambahkan, survei ini dilakukan di 6 kota di Indonesia, yaitu Pontianak, Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Makasar dan Surabaya dalam kurun waktu Agustus – Oktober 2016. Hasil survei menunjukkan, radikalisme yang terjadi di Indonesia sangat berkaitan dengan munculnya terorisme. Beberapa terorisme yang ada di Indonesia seperti ISIS, Bom Sarinah dan pengrusakan tempat ibadah seakan menjadikan Islam sebagai agama yang menyeramkan dan menebarkan kebencian di mata responden.

“Mayoritas responden berpendapat bahwa kejadian yang berkaitan dengan terorisme di Indonesia membuat Islam menjadi agama yang menebarkan kebencian dan menyeramkan”, ujar Isvahani

Latar belakang munculnya radikalisme dan kekerasan berbasis agama adalah kurangnya pemahaman terhadap Islam. Selain itu, penyebab lainnya yaitu frustasi pada kehidupan sosial yang menjadikan seseorang beralih sebagai teroris. Pengaruh lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam kehidupannya.

Dengan kemudahan akses informasi, masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai isu-isu yang berkembang terkait radikalisme. Televisi menjadi sumber informasi yang paling banyak diakses responden untuk mendapatkan suatu informasi dibandingkan media sosial maupun surat kabar.

Isvahani menambahkan, untuk itu, keluarga adalah garda terdepan dalam proses pembentukan keyakinan agama. Selain penerapan keyakinan agama, penerapan nilai-nilai kebhinekaan juga menjadi faktor penting generasi muda agar tidak terpengaruh oleh ajakan kelompok radikal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here