Mau Tahu Penyebab Kerajinan Eceng Gondok di Kepahiang Menghilang? Berikut Pengakuan Pengrajin

0
57

Laporan : Aji Asmuni

Eceng Gondok yang menyelimuti perairan Sungai Musi yang membentang di 5 desa di Kecamatan Ujan Mas, Kepahiang. (Foto : Azhari Edo/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang dalam hal ini dilaksanakan oleh Wakil Bupati Kepahiang Netty Herawati, berdiskusi dengan beberapa warga tentang rencana agar diaktifkan kembali industri kerajinan tangan (handycraft) Eceng Gondok. Mengingat kerajinan Eceng Gondok ini pernah eksis bahkan sempat membuat harum nama Kepahiang.

Ditambah lagi, bahan baku Eceng Gondok melimpah di Sungai Musi yang berada di sepanjang desa-desa di Kecamatan Ujan Mas, yakni Desa Tanjung Alam , Air Hitam, Suro Bali, Suro Ilir dan Suro Muncar. Bahkan rencana ini juga telah direspons positif oleh PLTA Musi Ujan Mas atau PT (persero) PLN  Sektor Pembangkit Pengendali Bengkulu. Karena bagi PLTA Musi Ujan Mas, jika Eceng Gondok itu dimanfaatkan dan dikelola oleh warga menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis, sisi lainnya, perairan Sungai Musi jadi bersih dan terbebas dari gulma yang bernama latin eichhornia crassipes tersebut.

Namun yang menjadi pertanyaan, jika memang kerajinan Eceng Gondok ini pernah berjaya beberapa tahun silam bahkan sempat membuat nama Kepahiang terangkat di mata nasional, lantas kenapa kegiatan itu terhenti? RedAksiBengkulu.co.id mencoba mencari tahu apa sebab permasalahan tersebut.

Dituturkan Made Budi Ardane, warga Desa Suro Bali, sekitar 5 tahun lalu, ia dan rekan-rekannya di desa memang sebagai pengrajin Eceng Gondok. Kala itu Made Budi mengawali usahanya itu dari iseng-iseng.

“Mulanya iseng-iseng saya buat tas dari Eceng Gondok dengan modal sendiri. Itu pun masih setengah jadi. Lalu tas itu dibeli seharga Rp 35 ribu untuk tempat mukenah sholat. Tentunya saya bangga, tas saya bermanfaat bagi orang. Singkatnya, produk itu banyak diketahui dan orang-orang malah jadi banyak mesan,” kenang Made Budi.

Made menjelaskan, produk yang pernah dibuat ia bersama warga desanya itu diantaranya, tas, sandal santai (seperti yang ada di hotel-hotel), tempat tisu, vas bunga dan masih banyak lagi. Kepiawaian Made Budi dalam mengolah Eceng Gondok menjadi handycraft membuat ia sibuk, sampai-sampai ia pernah diajak pihak Disperindag Kepahiang bermitra menjadi pemateri pada forum pelatihan Pengolahan Eceng Gondok.

“Semua perajin Eceng Gondok yang ada di Desa Tanjung Alam, Air Hitam dan desa lainnya itu, saya yang ajarkan. Termasuk rekan-rekan saya di desa”, paparnya.

Ketika disinggung, jika memang rencana Pemkab Kepahiang dengan dibantu pihak lainnya seperti Bank Indonesia dan PLTA Musi Ujan Mas akan membangkitkan lagi geliat industri kerajinan Eceng Gondok, apa tanggapan dan sikapnya? Made Budi terkesan no respons. Bahkan ia menyatakan sikapnya, bahwa ia tidak akan mengulang masa-masa itu lagi.

“Silakan kalau pemerintah (Pemkab Kepahiang) mau angkat (kerajinan Eceng Gondok) itu lagi. Saya tidak mau lagi. Kalau pun mau, sementara waktu, paling saya cuma melatih orang-orang yang ingin mau belajar (mengelola) Eceng Gondok,” begitu pernyataannya kepada RedAksiBengkulu.co.id.

 

Baca Juga : Disinggung  Soal Eceng Gondok Di Perairan Sungai Musi, Ini Jawaban PLTA Musi Ujan Mas ….

 

Made Budi, pengrajin Eceng Gondok dari Desa Suro Bali Kecamatan Ujan Mas saat diwawancarai RedAksiBengkulu.co.id. (Foto : Azhari Edo/RedAksiBengkulu)

Lantas, apa sebab Made Budi enggan kembali berkarya di Eceng Gondok? Made Budi menjelaskan, bahwa ketika dulu masa pengolahan Eceng Gondok itu sempat berjaya, Made Budi merasa ‘dipecundangi’ dan pemerintah terkesan tidak serius alias hanya memanfaatkan masyarakat.

“Dulu waktu kami sedang aktif-aktifnya mengolah kerajinan Eceng Gondok ini, kami pernah ditawarkan pinjaman (uang) oleh pemerintah. Tapi akhirnya saya tolak dan dari situlah saya putuskan percuma diteruskan usaha ini kalau sistem dari pemerintah tidak berpihak pada masyarakat,” kenang lelaki yang juga punya hobi di tanaman hias ini.

Setelah dikaji-kaji dari tawaran pinjaman (uang) itu, sambung Made Budi, dinilai sangat memberatkan. Karena menurutnya, usahanya yang baru akan maju selangkah dari kondisi sebelumnya, namun sudah dihadapkan dengan ancaman usahanya yang tidak ada jaminan dari pemerintah.

“Jelas kami tidak ambil tawaran pinjaman itu, karena sedari awal kami sudah dihadapkan dengan angsuran pinjaman per bulan yang kami nilai sangat besar dan memberatkan,” keluh Made Budi.

Sementara jaminan pemasaran produk Eceng Gondoknya, lanjut Made Budi, tidak ada. Sehingga ia menyimpulkan, produk handycraft dibuat terus, tapi tidak keluar (terjual). Padahal katanya, ia tidak keberatan berapa pun permintaan, siap dibuatkan.

“Tapi kalau pemasarannya tak jalan, untuk apa? Justru kami menggantungkan harapan kepada pemerintah supaya produk kami keluar (terjual). Karena pemerintah kan punya jaringan/koneksi untuk pemasaran sangat luas,” bebernya.

Di sisi lain, kata Made Budi, perilaku pinjam-ambil produk handycraft terhadap pengrajin untuk buah tangan karya lokal daerah ketika ada tamu penting dari luar daerah/kota, seperti tamu dari pihak kementerian, direktorat jenderal atau pemerintah provinsi, dinilai tidak etis. Pengalaman Made Budi, ada beberapa produknya sampai kini dipinjam dan diambil oleh pihak pemerintah daerah namun sampai kini tidak ada kejelasan.

“Pertama kali, kami fikir akan diganti (uang) produk yang diambil untuk dijadikan souvenir atau ole-ole untuk para tamu itu. Ternyata tidak. Kedua kali bahkan seterusnya begitu juga. Bukannya perhitungan, tapi logikanya produk itu kan dibuat dengan modal kami. Masa mereka tidak berfikiran saling bantu malah kesannya kami ini dimanfaatkan,” keluhnya lagi.

Namun terlepas dari perihal yang dijelaskannya di atas, Made Budi tetap men-support upaya Pemkab Kepahiang untuk mengangkat kembali industri Eceng Gondok. Hanya saja ia berharap, pola lama jangan terulang lagi. Sebab jika masih demikian, sama halnya hanya akan membuka ‘luka lama’ dan tidak ada tujuan akhirnya untuk mensejahterakan masyarakat.

Dan hal utama yang harus diperhatikan pemerintah adalah, jaminan pemasaran produk Eceng Gondok. Karena menurut Made Budi, jika pasar sudah terjamin, warga pengolah kerajinan itu ada semangat dan harapan untuk berkreasi.

“Pemerintah daerah harus gencar promosi. Lalu pengrajin diberikan wadah khusus dengan sistem manajemen pengolahan yang profesional dan proporsional. Berikan dana hibah sebagai modal awal berkreasi,” demikian harapan Made Budi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here