Aksi Mahasiswa 121 : Hujan Deras, Massa Paksa Masuk Gedung DPRD Provinsi Bengkulu

0
50

Laporan : Tata Riri

Ratusan mahasiswa HMI Bengkulu, berunjuk rasa di gedung DPRD Provinsi Bengkulu. (Foto : Tata Riri/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bengkulu, mendatangi gedung DPRD Provinsi Bengkulu untuk menentang kebijakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terkait kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), BBM dan kebijakan lainnya yang dianggap menyengsarakan rakyat.  Meski, aksi pada Kamis (12/1/2017) pagi itu berlangsung diguyur hujan deras, mahasiswa tetap semangat menyampaikan aspirasinya.

Kordinator aksi, M. Yudha mengatakan, pemerintahan Jokowi saat ini tidak berpihak kepada rakyat. Kenaikan harga TDL, BBM hingga harga sembako hanya akan menambah pengeluaran biaya hidup dan membuat rakyat jadi miskin.

Sayang, teriakan mahasiswa dari luar pagar gedung DPRD Provinsi Bengkulu tidak membuat mereka puas. Tatkala aspirasi yang disampaikan mahasiswa itu serasa tak diindahkan. Spontan, mahasiswa memaksa masuk ke dalam gedung wakil rakyat tersebut meski dijaga ketat aparat kepolisian. Hingga akhirnya, Sekretaris DPRD Provinsi Bengkulu, Sofwin Syaiful, menemui dan menerima mahasiswa.

Di hadapan mahasiswa, Sofwin yang ketika itu sembari memegang surat keterangan Dinas Luar (DL) para legislator mengatakan, bahwa anggota DPRD Provinsi Bengkulu sedang dinas luar, sehingga tak seorang pun legislator yang mengantor. Tak beberapa lama kemudian, ratusan massa dari Aliansi Bela Rakyat, yang dikoordinatori Octari Ezon, tiba di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu.

Sementara massa dari HMI bergerak mundur, massa berjumlah ratusan dari gabungan BEM se-Kota Bengkulu ini sebelumnya longmarch dengan mendorong motor dari Simpang Lima Ratu Samban menuju DPRD Provinsi Bengkulu.

Massa Aliansi Bela Rakyat yang sebelumnya menyampaikan orasi di Simpang Lima Ratu Samban itu mendesak anggota DPRD Provinsi Bengkulu untuk turun menemui massa. Namun karena tidak ada seorang legislator pun di kantor, massa bergerak masuk ke gedung untuk mengecek apakah benar legislator memang tak berada di tempat.

Setelah mendapatkan penjelasan bahwa anggota DPRD tidak ada di tempat, massa memaksa untuk masuk ke dalam gedung dan mengecek apakah benar anggota dewan tidak ada di dalam gedung.

Alhasil, Octari Ezon beserta perwakilan massa lainnya masuk ke gedung atas seijin Sekwan yang didampingi langsung Kapolresta Bengkulu, AKBP Adrian Indra Nurinta. Setelah mengecek seluruh ruangan di gedung DPRD Provinsi, massa bergerak mundur dan akan berdiskusi terkait permasalahan ini.

Adapun aspirasi yang disampaikan mahasiswa tersebut adalah ;

  1. Pencabutan subsidi listrik 900 VA dan kenaikan TDL secara berkala dinilai belum layak juga berdampak pada terjadinya inflasi
  2. Kenaikan BBM Non Subsidi Rp 300/liter tidak realistis. Padahal harga minyak dunia yang sedang turun, tren ekonomi juga sedang menurun
  3. Kenaikan BBM tentunya juga akan berdampak pada kenaikan harga–harga kebutuhan sembako sehingga berefek domino pada biaya hidup masyarakat
  4. Kenaikan PNPB yang diberlakukan Kepolisian RI untuk mendorong kinerja yang lebih baik, tidak rasional
  5. Kebijakan di atas diputuskan tidak diimbangi dengan pelayanan publik yang baik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here