Jurnalis Bengkulu Dukung Gerakan Anti Berita Hoax

0
51

Laporan : Tata Riri

Aksi Jurnalis Bengkulu mendeklarasikan dukungan terhadap Gerakan Anti Hoax di Tugu Pers Kota Bengkulu, Senin (9/1/2017) (Foto : ist)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Banyaknya pemberitaan negatif tanpa ada kebenarannya (hoax) yang marak beredar, menimbulkan keresahan di masyarakat. Menyikapi hal itu, para Jurnalis Bengkulu yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bengkulu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bengkulu dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu, mendeklarasikan dukungan terhadap Gerakan Anti Hoax di Tugu Pers Kota Bengkulu, Senin (9/1/2017) siang.

Para jurnalis ‘memandikan’ alat komunikasi seperti smartphone, laptop dan notebook milik mereka dengan kembang tujuh rupa sebagai bentuk penolakan terhadap pemberitaan hoax.

Koordinator aksi sekaligus Kepala Bidang Pendidikan AJI Kota Bengkulu, H. Christopher mengatakan, informasi dengan mudah diterima oleh semua kalangan, baik orang dewasa, pelajar bahkan anak-anak menjadi bentuk keprihatinan karena mereka mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya (hoax) melalui gadget yang mereka miliki.

Lanjutnya, aksi mengumpulkan smartphone ini adalah sebagai bentuk penolakan terhadap penyebaran informasi hoax oleh pengguna telepon pintar (smartphone).

“Kemudahan penyebaran informasi hoax melalui broadcast message, grup BlackBerry Messanger (BBM), grup WhatsApp (WA), grup telegram atau dipublis melalui medsos Line, Instagram (Ig), Path, Facebook (FB), Twitter, serta e-mail harus kita perangi dan kita tolak”, ujarnya. 

Berdasarkan data Indonesia Security Incident Respon Team on Internet Infrastructure Coordination Center (ID-SIRTII/CC), ada sekitar 165 juta pengguna provider di Indonesia. 40 juta diantaranya adalah pengguna anak di bawah umur (dibawah usia 18 tahun).

Sementara itu, Ketua Bidang Organisasi PWI Bengkulu, Yuliardi Hardjo Putra mengatakan, pentingnya pengawasan dan kesadaran dari masyarakat sejak dini agar alat komunikasi (smartphone) dapat digunakan dengan semestinya.

Dikatakanya, penggunaan smartphone belum merata di seluruh wilayah di Indonesia. Meskipun mayoritas daerah perkotaan telah dapat menggunakan smartphone, namun tidak sedikit masyarakat di pedesaan yang gagap teknologi (gaptek).

Hal lainnya, orang dewasa kalah pintar dengan anak-anak terkait kemajuan teknologi. Oleh karena itu, perlu ada pengawasan intens terhadap anak-anak dalam menggunakan smartphone agar tidak turut menyebarluaskan informasi hoax.

Ketua IJTI Bengkulu, Heri Supandi menimpali, penyebaran informasi hoax dapat dipidana sesuai UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tentunya, sambung Heri, persoalan ini tidak terlepas peranan dari semua pihak. Mulai dari keluarga, sekolah, kampus dan masyarakat agar penggunaan smartphone dapat dilakukan secara sehat, agar terhindar dari penyebarluasan informasi hoax.

Oleh karena itu, Jurnalis Bengkulu mengajak masyarakat untuk menggunakan smartphone dengan bijak tanpa menyebarkan informasi hoax yang dapat merugikan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here