Sebatang Kara, Pria Ini Idap TBC dan Dirawat di RSUD Curup Tanpa Dampingan Keluarga

0
48

Laporan : Rahmadi

Foto Nelson yang diunggah pertama kali oleh akun Facebook Shelvy AS Effendi. (Foto : Facebook)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG –. Nelson (45), adalah pasien penderita Tuberculosis (TBC)  setelah diketahui dari hasil diagnosa tim medis RSUD Curup, Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Pria paruh baya ini, kini masih terbaring di ruang Raflesia Kelas III RSUD Curup sendiri tanpa didampingi keluarga kandung atau keluarga terdekat. Namun bersyukur ada sebuah keluarga yang mengurus Nelson dalam menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Informasi ini diperoleh dari unggahan pertama kali di Facebook oleh akun bernama Shelvy AS Effendi pukul 16.36 WIB Selasa, (26/12/ 2016). Barulah foto Nelson yang terbaring sakit itu diunggah ulang oleh akun Facebook bernama Heni Afrianti pukul 18.44 WIB. Dari hasil penelusuran, terdapat nomor kontak (handphone) Heni di wall facebook-nya. Kemudian jurnalis RedAksiBengkulu.co.id menggali informasi tentang Nelson.

Kepada RedAksiBengkulu.co.id, Heni menerangkan, Nelson diketahui sudah lama mengidap TBC. Puncaknya, 3 hari sebelum dibawa ke rumah sakit, kondisi Nelson parah. Hingga akhirnya ia dibawa ke rumah sakit pada Selasa (27/12/2016) sore. Heni dan suaminya lah yang membawa pria tua yang tinggal sebatang kara itu.

Heni yang berdomisili di Kelurahan Dusun Curup Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong itu meneruskan, Nelson bukanlah anggota keluarga maupun kerabatnya, melainkan teman dekat ayahnya, Hermanto. Wanita yang kesehariannya sebagai guru di SMAN 1 Merigi kembali menjelaskan, bahwa Nelson adalah warga pendatang dari Padang, Sumatera Barat. Nelson tiba di Curup sendirian sekitar 4 bulan lalu dan mendatangi rumah ayah Heni, Hermanto. Ketika itu Nelson dalam kondisi sehat namun sedikit terlihat sudah ada gejala sesak nafas.

Oleh Hermanto, Nelson pun diperkenankan tinggal di rumahnya. Tak lama Nelson tinggal di rumah Hermanto,  sakit Nelson mulai terlihat. Namun keluarga Hermanto tidak tinggal diam. Keluarga itu mengobati Nelson dengan membawanya ke Puskesmas Curup Utara. Sempat dinyatakan membaik oleh puskesmas dan Nelson pun dianjurkan boleh pulang.

Tapi, karena Nelson berpikiran kondisinya memberatkan sahabatnya, Hermanto, Nelson pun tetap tinggal dengan Hermanto namun ia memilih tinggal di pondok kebun yang tak jauh dari rumah. Selama di pondok kebun, Nelson juga rutin check up ke Puskesmas Curup Utara.

“Kami lah yang mengurusi obat-obat untuk Pak Nelson. Meski tinggal di pondok kebun, kami sekeluarga tetap rutin menjenguk Pak Nelson untuk memantau kesehatanya”, ujar Heni saat dihubungi melalui telpon genggamnya.

Sabtu (24/12/2016) sore, sambung Heni, seperti biasa ia menjenguk Nelson di pondok. Namun saat itu Heni terkejut melihat kondisi kesehatan Nelson menurun terlihat terbaring lemas. Spontan Heni berkoordinasi dengan ayahnya dan disepakatilah membawa Nelson ke RSUD Curup.

“Pak Nelson harus segera dirawat. Maaf, bukan kami tidak mempedulikan keluarga kandung Pak Nelson, yang kami pikirkan duluan Pak Nelson harus sembuh. Kami juga tidak terpikir biaya pengobatannya dari mana, karena yang terpenting saat itu keselamatan Pak Nelson”, tambah Heni.

Foto Nelson ketika dirawat di RSUD Curup yang diunggah oleh akun Facebook Heni Afrianti. (Foto : Facebook)

Disinggung Nelson yang sebatang kara dirawat di rumah sakit, bagaimanakah pengurusan administrasi berobatnya, Heni menjelaskan, bahwa Nelson memang tidak memiliki KTP dan pengobatan Nelson di rumah sakit gratis. Heni pun menambahkan, bahwa dirinya lah yang mengurus administrasi buku jiwa Nelson sampai kepengurusan Jamkesda hingga akhirnya pengobatan Nelson tidak dikenakan biaya alias gratis.

“Alhamdulillaah dimudahkan jalannya ketika mengurus administrasi Pak Nelson untuk administrasi berobat Pak Nelson,” sambungnya.

Ditanya terkait apakah sudah ada bantuan atau perhatian dari pihak terkait, Heni menjelaskan, sudah ada kunjungan dari Dinas Sosial Rejang Lebong dan beberapa orang yang mengaku masih kerabat Nelson.

“Ada pihak Dinsos (Rejang Lebong) datang menjenguk Pak Nelson. Terus ada juga orang yang datang yang katanya masih ada hubungan keluarga tapi jauh terhadap Pak Nelson. Soal bantuan materi, jujur ada juga. Tapi saya menerima bantuan itu cuma dari teman-teman dekat saya. Dari orang yang tidak begitu saya kenal, saya tak berani menerimanya,” demikian Heni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here