Kesetiaan Penjual Makanan Khas Bengkulu Lemang Tapai Padahal Untung Tak Seberapa

0
55

Kontributor : Tata Riri

Lemang Tapai, makanan khas Bengkulu. Penjualnya biasa ditemui di sepanjang Jalan Sungai Rupat Lingkar Barat, Kota Bengkulu. (Foto : Tata Riri/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Lemang Tapai adalah salah satu makanan khas Bengkulu yang masih bertahan di tengah banyaknya sajian makanan olahan di Bengkulu.  Lemang Tapai terbuat dari bahan baku beras ketan. Untuk Lemangnya dari beras ketan putih sedangkan untuk tapainya dari beras ketan hitam.

Lemang yang berbahan baku beras ketan putih diolah dengan menggunakan bambu sebagai wadah olahnya dengan dilapisi daun pisang muda, lalu bambu berisi beras ketan putih tersebut dibakar hingga ketan di dalamnya matang. Beda dengan Tapai yang terbuat dari beras ketan hitam tidak dibakar, melainkan difermentasi beberapa hari hingga mengeluarkan (air) saripatinya yang manis keasam-asaman.

Di Kota Bengkulu, Lemang Tapai banyak dijual di sepanjang Jalan Sungai Rupat Lingkar Barat, Kota Bengkulu. Biasanya, Lemang dijual Rp. 5000/buah (potongan bambu), sedang untuk Tapainya dijual Rp. 10.000/botol.

Kenapa penjual Lemang Lemang Tapai ini diistilahkan ‘Penjual Setia’ ? Maksudnya, kenapa mereka tidak berjualan di tempat lain atau berpindah tempat dan kenapa juga mereka tidak menjual makanan selain Lemang Tapai?

Diungkapkan Titi, salah seorang penjual Lemang Tapai di kawasan setempat, ia dan keluarganya telah  berjualan Lemang Tapai ini sejak beberapa tahun silam. Penjual Lemang Tapai memiliki jiwa kekeluargaan yang tinggi dan saling membantu sama lain, sehingga mereka enggan ‘mendua’. Maksudnya, sampai kapan pun mereka tetap akan berjualan Lemang Tapai di sepanjang kawasan itu dan mereka hanya akan menjual Lemang Tapai.

“Yang jual Lemang Tapai di Kota Bengkulu ini, ya kami ini lah. Biar kalau ada yang ingin membeli, masyarakat taunya di sini (Jalan Sungai Rupat, Lingkar Barat). Kami sudah berjualan Lemang Tapai sudah lama, sama dengan penjual lainnya. Semua penjual di sini saling kenal dan saling bantu jika ada yang membutuhkan,” tutur Titi kepada RedAksiBengkulu.co.id.

Titi menambahkan, ia menjual Lemang Tapai ini selain untuk membantu kebutuhan keluarga, sembari melestarikan makanan khas Bengkulu. Meski omzet dari berjualan Lemang Tapai dalam sehari-harinya tidak menentu.

“Dari omzet per hari, kadang dapat (untung) kadang pas-pasan. Per pasang (Lemang Tapai) kami hanya ambil untung sekitar Rp 1.000-2000. Karena harga beras ketan untuk buat Lemang tidak stabil, sehingga mengurangi keuntungan. Walau begitu, kami masih akan terus jualan (Lemang Tapai) agar makanan khas Bengkulu ini tidak punah,” papar Titi.

Titi berjualan dari pagi hingga petang atau sampai Lemang Tapai itu habis terjual. Kalau pun tak habis terjual, dikonsumsi sendiri. Selain Lemang Tapai, masih banyak makanan khas Bengkulu yang masih bertahan. Diantaranya Lempuk Durian dan Kurma. Namun, bahan baku dari jenis makanan khas itu terkendala oleh musim. Berbeda dengan Lemang Tapai yang tak menenal musim, sehingga bisa diproduksi tiap hari.

Lemang Tapai biasanya juga sebagai menu makanan dalam acara adat istiadat. Baik dalam acara lamaran, pernikahan, hajatan, dan lainnya. Sebagian masyarakat pribumi pun setiap hari besar agama, selalu menyajikan Lemang Tapai ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here