Dahulu Terkenal, Kini Pasar Kambing Bengkulu Nyaris Tinggal Cerita

0
62

Laporan : Tata Riri

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Di Kota Bengkulu, tepatnya di Jalan Basuki Rachmat, sekitar 100 meter dari Simpang Empat Stadion Bengkulu (lebih dikenal dengan Simpang Jam) mengarah ke Simpang Lima, dulunya ada lokasi tempat berdagang hewan-hewan ternak, khususnya kambing. Sehingga di era 90-an, terkenal dengan sebutan Pasar Kambing.

Terlebih, setiap jelang Idul Adha, tentunya Pasar Kambing ramai transaksi jual beli ternak kambing untuk qurban. Bahkan dulu, karena sempitnya lokasi pasar, pemandangan kambing-kambing ditambang di pinggir jalan raya, adalah pemandangan yang biasa.

Terlepas dari momentum Idul Adha, Pasar Kambing dulunya adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli kambing setiap hari. Kebutuhan masyarakat terhadap daging kambing baik itu untuk aqiqah, khitanan, pesta pernikahan dan lainnya, selalu tersedia ragam dan jenis kambing. Sehingga pembeli dengan mudah memilih kambing yang diinginkan. Kini, Pasar Kambing nyaris tinggal nama. Karena yang berdagang kambing di pasar itu hanya 1 orang.

Beni Jauhari adalah pedagang kambing yang masih stay dengan profesinya. Saat ditemui RedAksiBengkulu.co.id, Selasa (6/9/2016), Beni menuturkan, banyak rekan-rekannya yang dulu jualan kambing beralih profesi. Ada yang kini menjadi anggota DPRD, dan tidak sedikit pula rekannya bangkrut sehingga tidak menjual kambing lagi.

“Dulu, warga Kota Bengkulu ini kalau mau beli atau jual kambing, ya di Pasar Kambing ini. Tapi sekarang sudah banyak alih profesi. Setahu saya, ada yang sudah menjadi anggota dewan, ada juga yang bangkrut,” kata Beni yang menggeluti prefesinya sejak 35 tahun silam.

Mendekati Idul Adha, kambing yang dijualnya bervariasi. Ada jenis domba, ettawa dan kambing kacang (kampung). Harganya kisaran Rp 1,7 juta hingga Rp 3 juta.

“Kambing yang dipaling laris jenis ettawa. Karena badannya lebih besar dari kambing jenis lainnya”, ujar Beni.

Bapak tiga anak ini menjual kambing namun bukan dari piaraannya sendiri, melainkan beli dari peternak di daerah-daerah. Dijelaskan Beni, ia membeli kambing dari desa-desa di Kabupaten Bengkulu Utara lalu dijual kembali di Pasar Kambing. Kambing yang dijual Beni bukan semata untuk qurban tapi juga untuk aqiqah atau bisa juga untuk ternak. Stok kambing yang dijualnya juga selalu ada.

“Saya tak punya waktu untuk beternak. Saya juga tidak menyuruh orang untuk menernak kambing saya, karena khawatir dijual tanpa sepengetahuan saya. Tapi saya sudah ada 2 karyawan untuk bantu-bantu saya sekedar merumput untuk pakan sampai kambing-kambing ini terjual,” bebernya.

Soal omzet, lanjut Beni, untuk tahun ini belum bisa diketahui karena masih dalam proses jual. Namun pada Idul Adha tahun lalu, Beni telah menjual 100 ekor kambing. Namun Beni berharap tahun ini setidaknya sama dengan tahun lalu atau kalau bisa lebih dari tahun lalu.

“Pembeli biasanya mulai banyak yang beli kambing untuk qurban pada H-3 Idul Adha. Karena pembeli lebih suka begitu beli kambing qurban langsung dipotong dibandingkan belinya jauh-jauh hari. Karena kalau jauh-jauh hari, pembeli repot mengurusnya. Terkadang, ada yang sudah bayar, tapi dititip dulu sama kami karena malas memberi pakannya. Dan Kalau ada pembeli yang minta diantar, kami siao antarkan”, pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here