Dua Jembatan Ini Terancam Ambruk, Desa Tanjung Alam Terancam Terisolir

0
62

Laporan : Zakaria H. Al-Ra’zie

Jembatan Desa Tanjung Alam yang ini adalah akses penghubung desa. (Foto : Zakaria H Al-Ra’zie/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Warga Desa Tanjung Alam Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu resah dengan aktivitas proyek pembangunan jalan yang berada di desanya. Pasalnya, proyek jalan tersebut berdampak pada rusaknya 2 unit jembatan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material proyek.

Kedua jembatan itu merupakan akses penghubung Desa Tanjung Alam dengan desa lainnya. Jembatan pertama merupakan jembatan perbatasan desa setempat dengan Desa Air Hitam. Sedangkan jembatan satu lagi berada di lingkungan desa yang berada di salah satu gang menuju sekolah.

Jika kedua jembatan yang saat ini memang sudah dalam kondisi rusak berat itu terus dilintasi beban berat, dikhawatirkan akan bertambah rusak. Ironinya, kata kepala desa setempat, Ferry Marzoni, proyek yang sedang dikerjakan di desanya itu merupakan proyek Desa Air Hitam. Sementara pihak terkait dalam pengerjaan proyek tersebut tidak ada koordinasi apapun kepada pihaknya.

Untuk itu, kata Ferry, ia meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kepahiang dan pihak terkait untuk turun langsung ke lapangan meninjau aktivitas proyek tersebut. Sekaligus memberikan penjelasan pada masyarakat desanya agar tidak terjadi simpang-siur informasi soal proyek yang sedang berjalan itu.

Jembatan satu lagi berada di lingkungan desa yang berada di salah satu gang menuju sekolah. (Foto : Zakaria H Al-Ra’zie/RedAksiBengkulu)

Sebelumnya Ferry juga pernah menyampaikan kepada pihak kontraktor terkait dampak pekerjaan yang sedang dikerjakan itu, namun pihak kontraktor menjelaskan, pihak desa tidak perlu ikut campur. Sebab jembatan rusak dan jalan yang sedang dibangun itu merupakan tanggungjawab Dinas PU Kepahiang.

“Kami (kontraktor,red) hanya melaksanakan tugas. Soal dampak pekerjaan, itu tanggung jawabnya Dinas PU,” jelas Ferry menirukan kata-kata kontraktor.

Mengetahui hal itu, Ferry pun menyesalkan respons dari kontraktor tersebut. Padahal ia dan warganya hanya ingin mencari solusi terbaik agar pembangunan yang dilakukan benar-benar tepat manfaat dan jelas prioritasnya serta tidak berdampak merusak jembatan yang sudah rapuh. Pihaknya juga berharap, proyek pembangunan jalan tersebut jangan sampai malah menimbulkan permasalahan baru dalam pelaksanaannya serta minim manfaat bagi masyarakat.

Ferry menambahkan, jika pihak terkait tidak bersedia meninjau langsung proyek tersebut, maka proyek tersebut terkesan sebagai proyek abal-abal. Hal ini disampaikan Ferry bukan tanpa alasan. Menurutnya, pengerjaan proyek yang sedang berlangsung itu tidak pernah dilaporkan pihak kontraktor ke perangkat desanya, karena lokasi pengerjaan proyek itu masuk di kawasan Desa Tanjung Alam.

“Kami merasa keberatan dengan aktivitas proyek pembangunan jalan tersebut. Sebab kendaraan yang membawa material proyek itu bisa merusak 2 unit jembatan yang dilalui setiap harinya. Wajar saya menegur pihak kontraktor karena pihak kontraktor tidak memperhatikan dampak dari lalulintas di jembatan itu. Tapi yang disayangkan, jawaban pihak kontraktor sangat mengecewakan,” keluh Ferry.

Ferry pun berharap, Dinas PU Kepahiang atau pihak terkait proyek ini dapat meninjau pekerjaan yang berada di Desa Tanjung Alam. Mengingat kondisi kedua jembatan di desanya itu sudah sangat memprihatinkan.

“Sebelum berdampak fatal, ada baiknya pihak terkait meninjau kedua jembatan itu. Karena jembatan itu benar-benar sudah rapuh,” demikian kades.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here