Komunitas Fotografi Ini Memoto dengan Kaleng atau Kardus Bekas. Hasil Fotonya Pernah Ikut Pameran Foto di Bali

0
59
Komunitas KLJI Bengkulu pada hunting bareng di Makam Inggris Kelurahan Jitra, Kota Bengkulu. (Foto : Dokumen KLJI Bengkulu)

Laporan : Aji Asmuni

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Bagi masyarakat yang belum tahu, percaya atau tidak percaya, ternyata sebuah kaleng atau kotak kardus (cartoon box) bekas, bisa menghasilkan sebuah karya foto? Nah, bagi yang belum percaya, berikut laporannya.

Dalam rangka memperingati Hari Lubang Jarum se-Dunia (Worldwide Pinhole Day) yang jatuh pada Minggu (25/4/2016), Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Bengkulu menggelar hunting bareng di Makam Inggris Kelurahan Jitra, Kota Bengkulu. Komunitas ini masuk dalam kategori pecinta atau penghobi fotografi (fotografer).

Bedanya dengan fotografer pada umumnya, biasanya seorang fotografer di era sekarang identik dengan menggantungkan sebuah kamera digital modern (SLR/DSLR) di lehernya. Sedangkan di komunitas KLJI ini hanya membawa kaleng atau kardus bekas yang sudah dilubangi sebesar lubang jarum sebagai media perekam cahaya (foto) serta perlengkapan lainnya. Hasil fotonyo juga bisa dilihat langsung dengan proses manual, yakni direndam dengan beberapa zat/cairan kimia.

Hasil karya kamera lubang jarum. (Foto : Dokumentasi KLJI Bengkulu)

Penghobi KLJI Bengkulu, Oktario S Fajri mengatakan, di KLJI, dalam memoto suatu objek, sifatnya try and error. Dijelaskannya, pemoto jangan berhenti mencoba demi mendapatkan hasil yang optimal. Karena kesempurnaan berawal dari kegagalan.

“Di KLJI, lebih kepada bahasan prosesnya, bukan kepada hasil. Karena dari proses itu akan diketahui, kekurangan, kelemahan dan kelebihan hasil foto tersebut. Sehingga, ketika kita bereksplorasi berikutnya, akan diketahui formulasi yang pas guna mendapatkan karya terbaik. Kepuasan yang diraih pun bukan semata melihat karya yang sempurna. Melainkan dari proses yang melelahkan dengan selimut kesabaran dan kegigihan,” terang Rio sembari memeragakan alatnya yang terbuat dari kaleng bekas rokok. 

Kenapa pria yang kesehariannya bekerja di bank swasta di Kota Bengkulu ini tertarik dengan kamera analog? Apa ia antidigital? Tidak. Karena katanya, setidaknya ia bisa melestarikan sejarah fotografi analog dan memperkenalkan proses alkimia dari rekam kerja objek cahaya sehingga menghasilkan sebuah karya foto kepada masyarakat.

“Era digitalisasi, sudah pasti masyarakat dimudahkan dengan kepraktisan/instan. Dan satu sisi, efek domino yang ditimbulkan yakni budaya konsumerisme masyarakat Indonesia. Disadari atau tidak, masyarakat pasti tidak pernah peduli bagaimana teknik kerja sebuah kamera bisa merekam alam menyerupai wujud aslinya. Nah, di KLJI ini, setidaknya kami memperkenalkan teknik dasar perekaman cahaya dari suatu objek alam sehingga menghasilkan sebuah karya foto,” bebernya kepada RedAksiBengkulu.co.id.

KLJI Bengkulu diperkenalkan oleh Dedi Abdul Rosyid, 2010 silam. Lalu bergabunglah Oktario S Fajri dan Aris Setiawan Ali, menyusul rekan-rekan lainnya sehingga terbentuklah komunitas KLJI Bengkulu. Karya foto KLJI Bengkulu yang dikaryakan oleh Rio dengan objek foto Bunga Rafflesia dan Aris Setiawan dengan objek foto gerbang Benteng Marlborought pernah mengikuti pameran di Bali pada 2013 lalu.

“Memang belum banyak member di komunitas ini. Karena di KLJI, bukan komunitas seperti layaknya komunitas fotografi lainnya. Di KLJI lebih kepada orang-orang yang bereksplorasi, kreatif, sabar dan tekun. Menyandang kalimat kreatif, artinya membuat tidak membeli. Info lanjut tentang kamera lubang jarum bisa klik klji.org atau facebook Klji Bengkulu,” demikian Rio. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here